Perayaan Ulang Tahun Ke-427 Kabupaten Banyumas, Senin (6/4), meriah. Kereta kuda dari Keraton Yogyakarta untuk mengarak Bupati Mardjoko dan istrinya dari Pendopo eks-Kota Atministratif Purwokerto ke Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Purwokerto, sejauh 1,5 kilometer.
Calung, kesenian asli Banyumas ikut dalam arak-arakan itu. Deretan pemain rebana dan marching band turut ambil bagian dalam iring-iringan itu.
Perihal kereta kuda tersebut, dua pekan sebelumnya diumumkan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyumas Santoso dalam jumpa pers. Dia mengatakan, untuk perayaan HUT Banyumas tahun ini, Bupati Banyumas tidak lagi berjalan kaki, melainkan naik kereta kuda yang khusus disewa dari Keraton Yogyakarta.
Dia menilai, kehadiran kereta kuda akan membawa suatu hal yang berbeda, bupati tidak lagi menyalami masyarakat Banyumas secara langsung seperti perayaan sebelumnya.
"Paling hanya dapat cium jauh, kiss bye," ucapnya.
Begitulah yang terjadi selama arak-arakan perayaan HUT Banyumas, Senin sore. Masyarakat Banyumas yang ingin melihat bupatinya hanya dapat menonton dari jauh. Kebiasaan itu rupanya hal baru bagi warga Banyumas.
"Perayaannya meriah,tetapi bupatinya tidak salaman," kata Subagyo (51), warga Mersi, Kecamatan Purwokerto Timur.
Warga lainnya, Toni Hutrianto (32), sangat menyayangkan adanya kereta kuda yang menyebabkan warga tidak bisa bersalaman secara langsung kepada bupatinya. "Cuma setahun pisan, jabat tangan dengan bupati. Kok malah naik kereta kuda," katanya.
Dibalik kemeriahan parade perayaan HUT Banyumas itu, ada yang menentang. Terutama dari sebagian kalangan anggota DPRD Banyumas, seniman, dan pelestari budaya Banyumas.
Terbukti dari kosongnya kereta andong bagi Ketua DPRD Banyumas Suherman. Secara terpisah, Suherman mengaku, dia absen dalam perayaan itu bukan karena tidak suka dengan model perayaan naik kereta kuda.
"Mau merayakan seperti apa saja, silakan," katanya.
Dia hanya tidak menyukai sikap kepemimpinan Bupati Banyumas Mardjoko yang selama ini dinilai kurang menghargai anggota dewan dan masyarakat Banyumas.
"Lihat saja kondisi Alun-alun Purwokerto, bupati mengubah seenaknya," ujarnya.
Sikap kontra datang pula dari Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Bambang Puji. Dia mengatakan, seluruh anggota legislatif dari PDI Perjuangan memboikot perayaan itu sebagai bentuk protes kepada bupati yang tidak peduli terhadap rakyat kecil.
"Demi naik kereta kuda, untuk apa menyewa dari Yogyakarta. Mengapa tidak menyewa andong dari warga Banyumas sendiri," gugat Bambang.
Seniman Banyumas, Surya Esa, berpendapat perayaan HUT Banyumas dapat dikemas dengan berbagai cara. Namun, perayaan kali ini terkesan begitu aneh.
"Saya tidak tahu, apakah itu kreativitas bupati atau bupati yang terlalu mengada-ada," katanya.
Menurut Surya, tradisi berjalan kaki para Bupati Banyumas sebelumnya, menunjukkan sikap egalitarian antara Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan seluruh warganya.
"Naik kereta kuda seperti sekarang, saya tidak tahu maksudnya untuk apa. Biarlah masyarakat yang menilai," kata Surya. (MDN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang