JAKARTA, KOMPAS.com — Aliran dana investor asing ke pasar modal Indonesia selama sebulan terakhir meningkat. Hal ini meningkatkan kepercayaan investor dalam negeri untuk kembali berinvestasi di pasar saham sehingga mendorong nilai transaksi dan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia.
Menurut Direktur Utama BEI Erry Firmansyah, di Jakarta, Selasa (7/4), investor asing kembali masuk ke Indonesia karena melihat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain. Begitu pula potensi pertumbuhan kinerja emiten di BEI.
Bank Indonesia memperkirakan, perekonomian Indonesia tahun 2009 akan tumbuh 3-4 persen. Pertumbuhan ini tergolong tinggi karena krisis global membuat pertumbuhan negatif pada hampir semua negara di dunia, khususnya Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. ”Bursa kita jadi pilihan karena harga saham di Indonesia sudah cukup murah,” ujarnya.
Data BEI menunjukkan, sepanjang Januari penjualan bersih investor asing tercatat Rp 1,16 triliun. Penjualan saham oleh investor asing berlanjut sepanjang Februari 2009. Saat itu investor asing membeli saham senilai Rp 5,88 triliun dan penjualan bersih Rp 6,4 triliun sehingga terdapat penjualan bersih Rp 561 miliar.
Namun, sejak minggu pertama Maret, transaksi asing di BEI berubah, dari lebih banyak menjual menjadi lebih banyak membeli. Pembelian saham oleh investor asing berlanjut sampai minggu kedua April. Sepanjang Maret, investor asing melakukan pembelian bersih Rp 1,77 triliun.
Peningkatan transaksi asing memicu kenaikan indeks harga saham. Selama sebulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan meningkat 17,5 persen, dari 1.286,69 per 6 Maret menjadi 1.490,85 per 7 April.
Adapun nilai transaksi yang selama tiga bulan terakhir hanya Rp 1,5 triliun, dua pekan terakhir rata-rata di atas Rp 2,5 triliun.
Namun, pengamat pasar uang, Farial Anwar, meragukan pertambahan nilai transaksi asing di BEI benar-benar dari investor asing. Sangat mungkin pertambahan itu dari investor Indonesia yang membeli saham melalui perusahaan sekuritas asing dan tercatat sebagai transaksi asing.
Investor Indonesia yang mulai membeli saham dalam jumlah besar, kata Farial, adalah spekulator di pasar uang yang pindah ke pasar saham. Kepindahan itu karena tingkat keuntungan di pasar uang kian tipis.
Sementara itu, Jepang dan Indonesia sepakat mengurangi ketergantungan pada dollar AS dalam transaksi perdagangan di Asia. Hal ini diperlukan agar negara-negara di Asia terhindar dari krisis keuangan global, yang dimulai dari negara yang menggunakan dollar AS sebagai basis utama transaksi.
”Proteksionisme finansial oleh negara maju membuat akses negara berkembang pada sumber pembiayaan berbasis dollar AS kian sulit,” ujar Presiden Bank Jepang untuk Kerja Sama Internasional (JBIC) Hiroshi Watanabe, seusai bertemu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Sri Mulyani menegaskan, rupiah kerap mendapatkan tekanan terhadap dollar AS karena banyak transaksi dagang internasional dalam dollar AS. Padahal, transaksi akhirnya dalam nondollar AS, termasuk yen.
Untuk memperkuat cadangan devisa dalam valuta asing nondollar AS, Indonesia mengikatkan diri pada perjanjian bilateral tukar-menukar valuta asing. Perjanjian dengan China sebesar 15 miliar dollar AS, Jepang 12 miliar dollar AS, dan Korea Selatan 2 miliar dollar AS. Indonesia juga ikut dalam perjanjian ASEAN plus tiga mencapai 120 miliar dollar AS. Valuta asing yang dipertukarkan ialah yen, renminbi, dan won.