Lulus Kuliah Kok Gundah?

Kompas.com - 08/04/2009, 09:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi itu menjadikan banyak orangtua kini lebih selektif mencari pendidikan bagi anaknya. Salah satunya adalah memilih tempat kuliah yang tepat.

"Hal paling utama dalam memilih perguruan tinggi adalah dengan memperhatikan kualitas pendidikan dan kualitas dosennya. Lebih baik lagi jika perguruan tersebut memiliki sebuah bursa kerja yang dapat membantu para lulusannya," ujar Prof. Dr. Yudi Julius, MBA, Rektor UPI Y.A.I.

Senada Yudi, Iwan Setiawan Dani, ST, Marketing and Promotion Manager Universitas Multimedia Nusantara pun menyarankan, sebelum memilih sebuah universitas, sebaiknya orangtua memerhatikan sistem manajemen, pengelolaan, kurikulum, serta fasilitas dan kualitas pengajarnya.

Memilih perguruan tinggi yang tepat bukanlah perkara mudah, apalagi melihat semakin ketatnya persaingan kerja di masa depan. Selain perguruan tinggi yang tepat, memilih jurusan yang tepat pun perlu diperhatikan.

Salah satu jurusan yang memiliki lapangan pekerjaan cukup luas adalah jurusan ekonomi atau akuntansi. Jurusan ini tentu banyak dibutuhkan perusahaan. Masalahnya, lulusan ekonomi atau akuntansi pun kini cukup banyak jumlahnya. Dus, mereka pun harus siap-siap bersaing dengan banyak pelamar lain untuk memerebutkan posisi pekerjaan di bidang itu.

"Selain menguasai bidang ilmu yang telah dipelajari di perguruan tinggi, sebaiknya mereka juga menguasai soft skills seperti komputer dan bahasa Inggris. Kemampuan lain seperti akuntansi dan presentasi pun sebaiknya dipelajari agar mudah mendapatkan pekerjaan nantinya," saran Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, Director The London School of Public Relations-Jakarta.

Siasat lain agar tidak gundah setelah kuliah adalah dengan memilih jurusan kuliah yang menjanjikan masa depan cerah. Yudi menuturkan, di masa lalu YA.I terkenal dengan Jurusan akuntansi keuangannya. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan krisis keuangan global, kini cukup banyak mahasiswa mengambil jurusan psikologi dan komunikasi di univeritas tersebut.

"Jurusan psikologi cukup menjanjikan karena dalam segala situasi, masyarakat pasti memerlukan ahli psikologi baik dalam dunia bisnis, marketing, politik, ekonomi, bahkan kesehatan. Jurusan komunikasi pun demikian, sebab banyak permasalahan yang dapat timbul akibat dari miss communication," tambahnya.

Sumber: Kompas Cetak/Ino

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau