Pesona Ibu Maria dan Tuan Ana di Larantuka

Kompas.com - 08/04/2009, 11:00 WIB

KUPANG, RABU — Ibu Maria dan Tuan Ana setiap tahun menghipnotis warga Larantuka, Nusa Tenggara Timur, tiga hari menjelang Paskah. Mereka diarak dalam hening doa. Tradisi sejak 500 tahun lalu itu masih bertahan dan menjadi daya tarik wisata rohani.

Ibu Maria atau Bunda Maria Reinha Rosari adalah pelindung Kota Larantuka di wilayah timur Indonesia. Adapun Tuan Ana adalah sebutan bagi putra Maria, Yesus Kristus atau Isa Almasih. Setiap Jumat Agung atau saat kematian Isa Almasih, warga Larantuka yang mayoritas memeluk agama Katolik melakukan prosesi mengarak patung Maria dan Yesus keliling kota. Prosesi panjang itu diliputi keheningan doa. Ini adalah tradisi panjang peninggalan Portugis yang datang ke wilayah itu sejak abad ke-16.

Perlahan, tanpa disadari, tradisi ini menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik. Tidak hanya menikmati aksi kultural menjelang Paskah, para wisatawan itu sebagian juga ikut larut dalam prosesi iman umat Katolik. Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengatakan, Rabu (8/4), prosesi Jumat Agung di Larantuka sudah menjadi bagian dari wisata rohani bagi umat Katolik di seluruh dunia saat menjelang Paskah.

Masih minimnya fasilitas penginapan di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, bukan menjadi kendala bagi para peziarah Katolik berkunjung ke kota itu untuk mengikuti prosesi Jumat Agung.
    
"Warga kota itu selalu siap membuka pintu rumahnya bagi siapa pun yang berziarah ke Larantuka untuk menginap di rumahnya. Ini sudah mentradisi," katanya.
    
Namun, fasilitas penunjang wisata seperti hotel dan infrastruktur pendukung lainnya belum memadai sehingga masih menjadi kendala untuk menjaring lebih banyak wisatawan berkunjung ke kota kecil di ujung timur Pulau Flores itu.
    
Gubernur Lebu Raya mengatakan, banyak investor berkeinginan untuk membangun hotel di Larantuka, tetapi dari sisi bisnis, mereka merasa kurang beruntung karena prosesi Jumat Agung berlangsung sekali dalam setahun menjelang Paskah.
    
Jauh sebelum tibanya prosesi Jumat Agung pada 10 April 2009, semua penginapan di Larantuka sudah dipesan para peziarah dari mancanegara, nusantara, dan NTT sehingga tak ada lagi kamar kosong bagi para peziarah yang datang sepekan menjelang prosesi.
    
Larantuka mulai terasa hening dalam doa saat Kamis Putih, Kamis, atau sehari menjelang perayaan prosesi Jumat Agung sehingga pelaksanaan pemilu legislatif pun digeser waktu pelaksanaannya pada 14 April 2009 untuk menghormati kekhusyukan umat Katolik dalam menjalankan ibadah pada Kamis Putih yang bersamaan dengan pelaksanaan pemilu.
    
Gubernur Lebu Raya mengatakan, fasilitas penginapan di Kota Reinha Rosari Larantuka memang sangat terbatas, tetapi tak ada satu pun peziarah atau wisatawan merasa telantar di Tanah Larantuka.
    
"Warga Larantuka akan menjadikan rumah tinggalnya sebagai hotel bagi para peziarah jika tak lagi mendapat penginapan. Inilah bentuk budi yang dapat diberikan warga kepada siapa pun yang berziarah ke Larantuka," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau