Ini Ontelku, Mana Ontelmu

Kompas.com - 08/04/2009, 12:38 WIB

Kereta angin berawal di Eropa di akhir abad 18. Malah, konon, Leonardo da Vinci sudah memiliki visi tentang kereta angin alias sepeda ini di akhir abad 15 melalui sketsa yang ditemukan di antara catatan hariannya. Museum Ilmu Pengetahuan (Museum of Science) di Boston, AS, menyebut sepeda – dalam sebuah pameran Leonardo da Vinci – sebagai produk dari sebuah gagasan yang merupakan gabungan antara seni dari masa Renaissance, ilmu pengetahuan, dan penciptaan.

Siapa sebenarnya penemu pertama kereta angin ini masih diperdebatkan. Beberapa buku sejarah menyebutkan, Pierre dan Ernest Michaux, anak bapak asal Perancis ini tertulis sebagai penemu sepeda sekitar tahun 1860-an. Bukti lain menyatakan, kereta angin ini sudah ada jauh sebelum 1860-an, namun demikian Ernest Michaux tetap diakui sebagai penemu sepeda modern (dengan pedal dan engkol) di tahun 1860-an.

Di tahun 1818 diperkenalkan sepeda Walking Machine karya Baron Karl Drais von Sauerbronn dari Jerman – tipe awal sepeda yang terbuat dari kayu tanpa pedal dan pengendaranya seperti ”menunggang kuda lumping”. Jauh sebelum itu, tahun 1790, Comte Mede de Sivrac menciptakan sepeda tanpa alat kemudi. Kereta angin tanpa alat kemudi (celeripede) ini dipercaya sebagai cikal bakal sepeda.

Von Drais memodifikasi sepeda awal tadi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki (draisienne). Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan tahun 1839, di mana dia  menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan draisienne (velocipede). Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.

James Starley dan keponakannya, John Kemp Starley, mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. James Starley mempopulerkan sepeda dengan roda depan yang sangat besar dengan roda belakang sangat kecil. Dia membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent (ordinary bicycle). Sampai kini kedua teknologi itu masih terus dipakai. Keponakannya memperbaiki temuan tadi dengan mengganti ukuran kedua roda menjadi sama besar dan menggunakan rantai sebagai penggerak roda belakang (safety bicycle).

Indonesia mengenal sepeda sejak Belanda datang dan memperkenalkan alat transportasi ini ke pelosok tanah air. Hingga kini, penggemar sepeda kuno yang biasa disebut ontel/jengki – sepeda yang sangat populer di negeri Ratu Beatrix – tetap eksis bahkan meningkat.  

Sebut saja Jakarta, yang sudah mengawali terbentuknya perkumpulan sepeda ontel sejak 1982 bernama Perkumpulan Sepeda Tempo Doeloe Batavia Silang Monas (PSTDBSM). ”Awalnya cuma 15 orang anggotanya. Kita dulu seneng kumpul-kumpul aja di Monas. Lama-lama tambah banyak yang suka. Akhirnya kita sempat punya 300-an anggota tapi sekarang mencar lagi. Sebab kan beda-beda tujuannya. Sekarang kan juga udah ada perkumpulan lain,” papar Iyang HS, salah satu dedengkot perkumpulan ini.

Pemilik lima sepeda ontel dari beragam tahun ini menambahkan, siapapun asal punya sepeda ontel atau kumbang (sepeda kuno) dan tertarik jalan-jalan keliling Jakarta dengan sepeda itu, bisa bergabung. ”Kita punya moto, senang kita makan bareng-bareng, susah kita gotong bareng-bareng. Kita enggak mau jalan sendiri-sendiri, semua anggota ini saudara kita,” tegas ayah tiga putri dan putra ini.

Sepeda keluaran Belanda bermerk Gazelle jadi salah satu sepeda yang diincar penggemar sepeda ontel. ”Gazelle, Batavus, Raleigh, Burgres, pokoknya merek-merek Eropa. Kita enggak main sama merek-merek China dan Jepang,” lanjut Iyang, ”Kita cari sepeda seperti ini ke Jawa. Di sana masih banyak yang asli semua onderdilnya. Makin tua makin bagus. Harganya juga masih murah. Biasanya saya cari ke Klaten, Jogja, atau Jombang. Di Jawa Tengah, Jawa Timur masih banyak.”

Untuk menaksir harga sebuah sepeda tentu tergantung merk dan kondisi sepeda yang akan dibeli. Setidaknya siapkan dana mulai Rp 500.000 sampai Rp 1,5 juta. Itu kalau hendak sekalian membeli aksesoris macam yang dimiliki Iyang.

Di setang sepeda Iyang, merek Asele asal Jerman, bertengger lampu antik asal Jerman merk Bosch yang dibelinya seharga Rp 250.000. Belum lagi bel delman merek Valentino Bell bikinan Amerika. Tampilan sepeda dari tahun 1940an ini pun makin yahud.

Iyang dan rekan lainnya tak mau kalah pamor, tentu saja, dengan makin maraknya perkumpulan pengguna sepeda non ontel. ”Di Eropa kan orang pakenya yang seperti ini. Sepeda kumbang, ontel.” ujar Iyang dengan bangga.

Ah, jadi ingat satu bait lagu milik penyayi Inggris Katie Melua – yang sempat meledak di pasaran Eropa – sepeda tak hanya menyesakkan Eropa tapi juga China:

There are nine million bicycles in Beijing
That’ s a fact
It’s a thing we can’t deny
Like the fact that I will love you till I die...

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau