Perempuan Juga Bisa Jadi Pemimpin

Kompas.com - 08/04/2009, 18:11 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Seorang pemimpin biasanya laki-laki. Lihat saja, selama ini yang menjadi pemimpin mulai tingkat yang paling bawah, sampai nasional adalah seorang pria. Kalaupun ada perempuan, masih satu dua.

Laki-laki dianggap lebih mempunyai wibawa dan lebih tegas. Akan tetapi, anggapan itu rupanya tidak berlaku bagi warga RT 3/RW 8 Kampung Gintung, Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan. Pasalnya, Ketua KPPS mereka adalah seorang wanita. Dialah Budi Suharti, atau yang biasa disapa Bu RT atau Bu Joko oleh warganya.

Hartini mengisahkan, awalnya pada pemilu tahun-tahun terdahulu, ia hanya bertindak sebagai saksi. "Tapi lama-kelamaan saya berpikir kalau jadi ketua TPS enak juga kali yah?" ujar Suharti.

Lalu, pada pemilihan presiden tahun 2004, di wilayahnya tidak ada yang bersedia menjadi ketua TPS, ia pun berinisiatif untuk mengajukan diri. Usulannya pun disetujui oleh pihak kelurahan. "Saya lalu belajar bagaimana melakukan tata cara pemilu yang baik dan benar. Soalnya selama ini saya kan cuma jadi saksi," kenang kader Posyandu terbaik tahun 2005 tingkat kabupaten ini.

Setelah mempelajari beberapa saat, akhirnya waktu pemilihan presiden pun tiba, dan Suharti ternyata dapat menjalankan tugas perdananya dengan baik. Setelah itu, setiap pemilu ataupun acara-acara lain, dia selalu diminta untuk memimpin.

"Sampai-sampai Pak Lurah bilang kalau saya terus yang memimpin," ujarnya seraya tersenyum.

Menjadi Ketua KPPS sebenarnya bukan hal yang mudah. Tanggung jawab yang besar harus dipikul oleh ketua. Beruntungnya, 10 anggota KPPS-nya, yang kesemuanya pria, selalu siap membantu. "Warga saya mengikuti apa yang saya minta, enggak ada yang ngelawan. Maklum, ibu-ibu memang cerewet," kelakarnya.

Tak jarang, ibu empat anak ini juga harus pulang larut malam karena tugasnya sebagai Ketua KPPS belum selesai. Untuk pemilihan calon legislatif kali ini, Suharti akan menjadi ketua di TPS 21 yang berlokasi di aula Mushalla Asyuhada. Suharti mengaku, DPT yang tercatat pada TPS-nya adalah sebanyak 491 orang. "Tapi ada perkurangan sekitar 20 orang. Mereka itu warga yang sudah pindah," kata dia.

Selanjutnya, wanita berambut pendek ini juga menerangkan, warganya tidak ada yang menjadi korban meninggal dalam bencana jebolnya tanggul Situ Gintung dua pekan lalu. Ia hanya berharap, pelaksanaan pemilu besok dapat berjalan lancar.

"Semoga besok semuanya berjalan lancar, dan semoga juga hasilnya dapat bermanfaat bagi semua masyarakat," harap Suharti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau