Benyamin Surya Bukan Korban Gempa L'Aquila

Kompas.com - 08/04/2009, 18:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Departemen Luar Negeri (Deplu) menyatakan hingga hari ini, Rabu (8/4), tidak ada laporan warga negara Indonesia (WNI) yang turut menjadi korban gempa bumi di L’Aquila, kota yang dibangun pada abad ke-13, sekitar 100 km sebelah timur Roma, Italia, Senin lalu (6/4).
   
"Tidak benar ada korban WNI yang turut menjadi korban gempa di Italia, sebagaimana pemberitaan media," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo di Jakarta, Rabu.
   
Menurut dia, seorang pelajar asal Indonesia bernama Benyamin Surya yang semula disebut turut menjadi korban dalam kejadian itu terbukti selamat. "Yang bersangkutan selamat karena telah pindah ke Nice, Perancis, pada 2 Febuari lalu," katanya.
    
Teguh mengatakan bahwa Benyamin tinggal di Perancis pada 2 Febuari 2009- Juli 2010 untuk menyelesaikan kuliahnya dengan program beasiswa salah satu negara di Eropa. Ia juga mengatakan bahwa hari ini Duta Besar Indonesia untuk Italia telah mengunjungi lokasi gempa untuk memberikan bantuan dan menyampaikan ucapan bela sungkawa.
   
Lebih lanjut, Teguh mengatakan bahwa Deplu RI terus melakukan pemantauan dan hingga saat ini tidak ada laporan korban hilang atau meninggal yang berstatus WNI.
   
Gempa kuat mengguncang satu daerah luas Italia tengah, menewaskan paling tidak 228 orang, dan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal serta merobohkan banyak rumah, gereja, dan gedung lain. Sekitar 1.500 orang terluka, 100 orang di antara mereka luka serius, dan kurang dari 50 orang hilang.
   
Reruntuhan gedung memblokir jalan di L’Aquila, menghantam mobil yang diparkir, dan bahkan bangunan modern di pinggiran kota itu pun ikut ambruk.
   
Bagian dan kompleks universitas ambruk di L’Aquila, satu daerah tujuan wisata yang populer, tetapi tidak jelas apakah ada orang di dalamnya.
   
Menara lonceng sebuah gereja di tengah kota itu juga ambruk dan sebuah gereja di desa lain juga ambruk. Di daerah itu banyak terdapat gereja peninggalan zaman Romawi pada masa Renaisans.
   
Beberapa orang dilaporkan cedera dan masih terperangkap di dalam puing-puing di kota itu dan daerah sekitarnya akibat gempa terkuat yang mengguncang Italia  dalam beberapa tahun terakhir itu.
   
Gempa itu terjadi sekitar pukul 03:30 waktu setempat (08:30 WIB) dan berpusat di wilayah pegunungan Abruzzo, timur Roma.
   
Penduduk di banyak bagian di Italia tengah merasakan getaran gempa dan melarikan diri ke jalan-jalan. Penduduk Roma, yang jarang dilanda gempa, bangun akibat gempa itu. Perabot rumah tangga bergetar, lampu-lampu bergoyang, dan alarm mobil mati.
   
Badan Survei Geologi AS mengatakan, pusat gempa itu diperkirakan berada sekitar 95 km dari Roma dan berkedalaman 10 km. Badan itu sebelumnya menyatakan bahwa gempa itu berkekuatan 6,7 skala richter, tetapi kemudian menurunkan angka itu menjadi 6,3 skala richter. Para pejabat Italia menyebut gempa itu berkekuatan 5,8 skala richter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau