Harga Karet Melar, Petani Tak Jadi Menggelepar

Kompas.com - 08/04/2009, 20:02 WIB

BANGKA BARAT, KOMPAS.com - Petani karet di Kabupaten Bangka Barat kembali bergairah memanen hasil perkebunan karetnya karena mulai membaiknya harga komoditas unggulan itu.  "Dalam sebulan terakhir, harga karet mulai membaik Rp 5.500 per kilogram. Sebelumnya, harga karet sempat jatuh hingga Rp 2.000. Dengan naiknya harga karet, kami kembali bergairah memanen karet," ujar Jami’i, warga Desa Simpang Tiga Kabupaten Bangka Baret, Babel, Rabu (8/4).
    
Ia mengatakan, mayoritas warga di desanya bekerja sebagai petani karet sebagai mata pencaharian pokok untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. "Ketika harga karet jatuh hingga mencapai Rp 2.000 per kilogram, kehidupan warga menjadi sulit karena menurunnya pendapatan. Sekarang ekonomi warga mulai membaik seiring kembali naiknya harga karet walaupun belum sampai level sebelum krisis ekonomi global," ujarnya.
    
Menurut dia, selain bertani karet, sebagian warga juga bekerja sebagai petani sawit, sahang, dan timah untuk menghidupi keluarganya. "Namun mayoritas warga bertani karet, sebagai mata pencaharian pokok untuk melangsungkan kehidupan sehari-hari," ujarnya.
    
Marhabun, warga lainnya mengatakan, perekonomiannya sudah mulai membaik seiring naiknya harga karet walaupun belum sampai pada level sebelum terjadinya krisis ekonomi global yang harganya mencapai Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram.
    
"Sekarang ini, hasil panen saya bisa mencapai Rp 500.000 per minggu, pendapatan sebanyak itu sudah cukup untuk menghidupi keluarga saya. Ketika harga karet Rp 2.000 per kilo gram, pendapatan jauh lebih rendah sehingga kehidupan semakin sulit," ujarnya.
    
Ia mengatakan, hasil panen karetnya dijual kepada saudagar atau tauke karet yang datang dari luar daerah. "Kami langsung mengantarnya kepada saudagar karet, ada juga yang dijemput ke kebun karet namun harganya lebih murah ketimbang diantar langsung kepada saudagar karet," ujarnya.
    
Ia mengharapkan harga karet terus naik dan kembali ke harga semula atau sebelum terjadi krisis ekonomi global. "Kami mengharapkan harga karet terus naik atau tetap bertahan dengan harga sekarang. Kalau harga karet jatuh lagi, tentu kami sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga," ujarnya.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau