Presiden: Isu Kecurangan Jangan Ganggu Pemilu

Kompas.com - 08/04/2009, 21:57 WIB

CIKEAS, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar isu tentang kecurangan pemilu yang muncul akhir-akhir ini tidak mengarah pada hal-hal yang justru dapat mengganggu jalannya pemilu.

Berbicara saat memberikan sambutan dalam acara doa dan zikir bersama di pendapa dekat kediamannya di Cikeas, Rabu (8/4) malam, Kepala Negara menilai isu potensi kecurangan pemilu seharusnya dijadikan cara untuk meningkatkan kewaspadaan bukan pada upaya untuk memperkeruh suasana politik dalam negeri.

"Saya perlu mengangkat masalah ini karena bila tidak diletakkan secara rasional bisa mengganggu pikiran kita. Bila isu ini diangkat agar kita waspada saya mendukung, karena itu adalah hati dan pikiran kita bersama untuk memastikan pemilu berjalan dengan baik," katanya.

Namun bila isu kecurangan itu diembuskan disertai dengan agitasi dan provokasi tentu akan menjadi lain hasilnya. "Apalagi belum-belum sudah ada anggapan pemerintah akan curang. Ini pemerintah yang mana? Kalau dari undang-undang pemilu semua sudah menjalankan fungsinya dengan baik, dan aturannya pun disusun bersama," kata presiden.

Presiden mempertanyakan dugaan akan curang tersebut bagaimana caranya, di bagian mana dan bagaimana jalannya karena telah ada aturan yang disusun. "Mungkin dulu terjadi pemerintahan dari satu partai, bisa saja orang berpikir ada rekayasa, tapi sekarang presiden dan wapresnya dari parpol yang berbeda," katanya.

Presiden juga mengatakan tidak pernah terpikir atau terlintas untuk berbuat curang. "Di jajaran pemerintah ada semua parpol, itu menjadi penyeimbang, di tingkat TPS pun berlapis-lapis pengamanannya, ada pula unsur pemantau sehingga tidak mudah kecurangan seperti yang dibayangkan," tegasnya.

Dari pihak penyelenggara pemilu pun, kata presiden, sekarang pemilu diselenggarakan bukan oleh pemerintah, tetapi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang tidak bertanggung jawab pada presiden maupun pemerintah.

"Mungkin ada yang berpikir jangan-jangan takut perolehan suara partai turun dan kemudian berpikir untuk bilang saja pemilu curang. Namun, saya percaya para pemimpin dan partai politik tidak seperti itu, karena itu mari kita berdoa agar jangan ada keonaran yang terjadi," katanya.

Presiden menilai dapat saja potensi terjadinya gangguan keamanan akibat penempatan isu potensi kecurangan tersebut. "Saya menyampaikan jangan biarkan negara kita mundur kembali. Bertahun-tahun kita bangun keamanan dan ketentraman. Adalah tugas saya untuk menjaga hal tersebut," tegasnya.

Meski demikian, presiden mengatakan, masyarakat tidak perlu was-was dan tetap berpikir positif untuk keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Presiden juga menilai ada upaya untuk menyebarkan fitnah dalam hari tenang pemilu dan meminta agar hal tersebut jangan sampai terjadi.

Presiden dan Ibu Negara menyelenggarakan doa dan zikir bersama di kediaman Cikeas yang dihadiri oleh 300 orang termasuk jemaah zikir Nurul Salam. Acara berlangsung sejak pukul 19.30 hingga pukul 21.30.

Dalam kesempatan itu Presiden Yudhoyono meminta ada empat hal yang didoakan yaitu pemilu berjalan dengan tertib, aman dan lancar, pemilu berlangsung jujur, adil dan demokratis, pemilu dijauhkan dari kecurangan dan saling curiga serta yang keempat adalah pemilu dijauhkan dari fitnah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau