Sun Han dan Ling-Ling Pilih Partai

Kompas.com - 09/04/2009, 09:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyaknya partai dan calon anggota legislatif cukup membuat warga Glodok kebingungan. Terlebih, tidak semua caleg melakukan sosialisasi kepada warga di daerah tersebut, yang mayoritas masyarakat Tionghoa keturunan.

Sun Han (65), misalnya, tampak kebingungan sesampainya di tempat pemungutan suara (TPS) 02, Kelurahan Glodok. Pasalnya, tidak satu pun foto-foto caleg yang dipampang di dinding sekitar lokasi TPS familiar baginya. "Bingung, ya, banyak sekali. Wo (saya) sih pilih partai aja dah. Sama aja, kan?" ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sinse di Glodok tersebut.

Baginya, poster-poster yang dipasang tumpang tindih di jalan-jalan, tidak ada satu pun yang nyantol di benaknya. Sebaliknya, Sun Han hanya mengingat beberapa calon presiden yang iklannya kerap diputar di televisi.

Aling (35) atau Ling-Ling, nama panggilannya, juga mengatakan hal senada. "Jangankan orang (caleg), partai aja tidak semuanya saya tahu," imbuhnya.

Indra Sonny (49) lain lagi. Dia mengaku memilih caleg yang tidak dikenalnya ibarat membeli kucing dalam karung. Baginya, lebih mudah memilih partai karena jejak rekamnya kerap disebut-sebut di media massa. Terlebih, perihal anggota dewan yang melakukan korupsi sering didengarnya di media.

"Kalau pilih orang, memang kadang antara mulut dan tindakannya beda seperti bumi dan langit," ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau