Sudah Almarhum tapi Masih Dapat Suara

Kompas.com - 09/04/2009, 15:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Penghitungan suara di Lapas Cipinang sudah dimulai sejak pukul 13.00 WIB di TPS 101 dan 102 dari sembilan TPS yang ada. Waktu penghitungan molor satu jam dari yang dijadwalkan pukul 12.00 WIB karena banyaknya jumlah warga binaan lapas, 3.363 orang, yang terbagi di 9 TPS yang ada.

Yang menarik, hingga pukul 14.00 WIB, dari hasil penghitungan suara di TPS 102 terdapat 23 suara yang memilih calon legislatif DPD DKI Jakarta Fadloli el Munir nomor urut 2. Padahal, Fadloli telah mengembuskan nafas terakhir pada 30 Maret 2009 lalu karena serangan jantung.

Suara yang diperoleh Ketua Forum Betawi Rempug ini melebihi caleg DPD DKI Jakarta AM Fatwa. Namun, karena Fadloli sudah meninggal, maka suara yang diperoleh akan hangus.

Saat ditanya mengenai sosialisasi tata cara pemungutan suara dan caleg yang masih terpilih, koordinator pemilih Lapas Cipinang, Syamsul, mengatakan sudah dilakukan sosialisasi. "Yah, kita sudah lakukan sosialisasi, tapi kalau masih ada suara hangus, ya itu risiko," katanya.

Syamsul yang juga menjabat Kabid Bagian Pembinaan Lapas Cipinang ini juga menjelaskan ada 14 warga negara asing (WNA) yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dari 9 TPS yang ada di lapas terbesar di Indonesia ini, "Tapi mereka tak diperbolehkan mencontreng karena terlanjur terdaftar ya tak apa, tapi hak pilihnya kan tidak ada," katanya.

Fadholi juga mendapatkan 2 suara di di TPS 'Megawati Soekarnoputri' di TPS 037 di Jalan Kebagusan IV, Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau