Festival Paskah di Macassar Afrika Selatan

Kompas.com - 10/04/2009, 22:28 WIB

Laporan langsung Hermawan Kartajaya

MACASSAR, KOMPAS.com - Inilah Easter Festival paling unik yang pernah saya lihat. Berlangsung mulai dari Kamis, 9 April sampai Minggu, 12 April 2009.

Festival diadakan di Macassar, Afrika Selatan! Bukan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Lebih unik lagi yang datang ribuan Muslim tidak ada satu pun orang Kristen dari hampir semua daerah Provinsi Western Cape.

Macassar yang terletak 35 km dari Capetown, Ibukota Western Cape itu memang pusat Rekreasi Spiritual Islam tahunan pada hari hari Paskah.

Yang memulai tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun ini adalah Syekh Yusuf, orang Indonesia dari Makassar, tepatnya Goa.

Pada tahun 1600-an Syekh Yusuf yang oleh pak Harto diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1995 itu dibuang ke Capetown oleh Belanda lewat Cape of Good Hope.

Beliau memang pejuang melawan kolonialisme baik di Sulawesi maupun Banten, ketika Syekh mengawini putri dari Sultan Agung Tirtayasa.

Dari Banten karena terlalu bahaya, Belanda pada mulanya membawa dia ke Sri Lanka. Tapi karena masih terlalu dekat dengan Indonesia, akhirnya dibawa ke Afsel yang waktu juga dijajah Belanda dengan politik perbudakannya.

Nah di Capetown itulah, secara sembunyi-sembunyi, Syekh Yusuf lantas mengajarkan Islam supaya para budak yang dibawa dari berbagai tempat di Asia Tenggara dan Afrika bisa "kuat" secara mental.

Sampai sekarang, 400 tahun kemudian, Syech Yusuf sudah dianggap sebagai Pelopor Islam di Afrika Selatan. Terutama bagi orang-orang Cape Malays, sebutan untuk orang berdarah campuran lokal, Indonesia, India, Arab dan sebagainya yang berjumlah kurang lebih 800.000 orang.

Tahun 2005, Almarhum Syekh yang juga disebut Saint Yusuf diberikan Penghargaan tertinggi Afrika Selatan diteken Presiden Thabo Mbeki sebagai Pejuang yang melawan Kolonialisme.

Lantas apa hubungannya dengan Easter Festival?

Disini justru uniknya.

Pada waktu Syekh masih hidup, beliau minta izin pada bos-bosnya yang Kristen untuk juga merayakan Paskah! Mulai Kamis Putih sampai Minggu Paskah, bos-bos pada libur dan ke Gereja.

Sedangkan Syekh Yusuf diberi izin untuk libur sejenak dan merayakan perayaan secara spiritual.

Nah tempat kumpul-kumpul tahunan itulah yang lantas diberi nama Macassar oleh Syekh Yusuf untuk mengenang tanah asalnya.

Jumat (10/4) pagi tadi, sesudah ikut acara Jalan Salib di Gereja Katedral St Mary di dekat Parliament House, Capetown saya justru mendengarkan Konjen RI Andradjati ceramah di Masjid Nurul Latief di Macassar.

Imam Adam Philander yang sekarang pemimpin spiritual di situ mengatakan, "Kita orang orang Cape Malays di Afrika Selatan harus bersyukur karena ada orang Indonesia Syekh Yusuf yang mengajarkan agama Islam."

Andradjati sendiri dalam sambutan tahunannya mengatakan bahwa kaum Muslim harus bisa Tawakal dalam menghadapi Tantangan Krisis Global ini. "Tapi yang harus diingat, Tuhan hanya menolong orang yang berusaha. Bukan yang pasif dan menyerah saja," tambahnya.

Masjid Nurul Latief ini perluasannya diresmikan oleh Wapres Jusuf Kala tahun 2005.

Saya juga melihat Piagam diteken Presiden Megawati Soekarnoputeri di halaman Masjid yang menggambarkan perjalanan kapal Syekh Yusuf dulu.

Sedang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bertemu dengan banyak Masyarakat Afrika Selatan keturunan Indonesia di Masjid tersebut Maret tahun lalu.

Setelah Shalat Jumat yang mirip dengan di Makassar, Sulsel itu, Konjen Andradjati lantas diminta untuk meresmikan De Voetbook Lodge. Sebuah penginapan di Macassar yang diberi nama sama dengan kapal yang dulu membawa Syekh Yusuf ke Afsel.

Di situ saya lihat, beberapa lukisan Syekh Yusuf beserta berbagai Piagam Pahlawan yang didapatnya.

Saya sendiri, melihat Macassar ini sebagai captive market untuk pengembangan religious tourism ke Indonesia. Juga makanan halal dari Indonesia bisa dipasarkan lebih mudah disini.

Konjen Andradjati sendiri kayaknya memang seorang Diplomat Senior yang juga Marketer Sejati. Saya lihat, beliau bisa "masuk" di Komunitas Cape Malays ini sehingga mudah sekali dalam usaha memasarkan Indonesia.

Saya sendiri bilang pada Imam Adam di depan Konjen Andradjati, kayaknya perlu segera di-launch M2M BRIDGE .

"Makasar to Macassar Bridge" semacam Silk Road zaman dulu anatara China dan Timur Tengah dan Eropa yang akhirnya jadi Jalur Religius dan Bisnis.

Perhatian lebih besar dari pihak Indonesia, khususnya dari Pemda dan Masyarakat Sulsel, Makassar dan Goa Khususnya sangat diperlukan. Karena inilah peluang pasar yang kalau digarap, saya yakin akan luar biasa!

Apalagi, selain Syekh Yusuf, secara total ada 18 Tuan-tuan Guru asal Indonesia dari berbagai wilayah yang sangat dihormati oleh masyarakat Cape Malays itu. Bukankah New Wave Marketing lewat pendekatan Komunitas yang sama budaya akan sangat mudah?

"It will be low budget high impact," kata Andradjati menyetujui.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau