Data dari bea cukai menunjukkan ada harapan bahwa dampak penurunan krisis global terhadap ekspor utama China tampaknya menurun. Akan tetapi, masih terlalu dini untuk mengonfirmasikan hal tersebut.
Ekspor China dapat menjadi salah satu indikator perekonomian global, pembelinya banyak berasal dari AS dan Eropa, negara yang sedang mengalami krisis.
”Jelas data tersebut menunjukkan ekspor tetap lemah. Namun, kejatuhan ekspor telah mengecil, itu merupakan tanda positif pada saat ini. Sulit menyatakan perbaikan itu akan menjadi tren ke depan karena masih banyak ketidakpastian,” ujar Jason Xu, ekonom pada China International Capital Corporation di Beijing.
Penurunan ekspor pada Maret lalu dengan total 90,29 miliar dollar AS mengikuti penurunan ekspor pada Februari sebesar 25,7 persen. Penurunan Februari ini merupakan penurunan terburuk dalam satu dekade terakhir.
Hal ini juga menunjukkan bahwa permintaan barang dari luar China masih berkurang karena krisis global.
Impor pada Maret turun 25,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi 71,73 miliar dollar AS. Angka ini membuat kenaikan surplus perdagangan Maret tahun ini sebesar 41,2 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Nilainya naik menjadi 18,56 miliar dollar AS.
Masalah surplus perdagangan adalah hal sensitif. Mitra dagang China seperti AS menuduh surplus perdagangan China itu lebih disebabkan terlalu rendahnya kurs mata uang yuan.
Mesin ekspor masif China menurun sejak akhir tahun lalu karena krisis finansial global melanda. Sejak krisis, permintaan terhadap barang China yang dikenal sebagai ”pabrik dunia” terus menurun. Pabrik berorientasi ekspor di China bagian selatan dan timur banyak ditutup, menyebabkan tingkat pengangguran melambung tinggi. Setidaknya ada 25 juta pekerja migran dari kawasan terbelakang China yang biasanya memiliki pekerjaan di pabrik saat ini menganggur. Demikian data dari Pemerintah China bulan lalu.
Pemerintah China pada November lalu mengungkapkan paket stimulus senilai 580 miliar dollar AS untuk melawan krisis. Para ekonom mengatakan, paket stimulus tersebut telah mulai berdampak. Xu mengacu kepada faktor positif di luar China. ”Saat ini data konsumsi di AS memperlihatkan beberapa tanda positif. Saya rasa itu akan memberikan dukungan pada ekspor jangka pendek China,” ujarnya.
Akan tetapi, para eksportir belum keluar dari kesulitannya, ujar Wang Hu, analis pada Guotai Jun’an Securities di Shanghai. ”Walaupun penurunan tajam pada ekspor China tampaknya tidak akan terjadi lagi, tak berarti kinerja ekspor akan membaik dalam waktu dekat,” ujarnya.
Wang menambahkan, sekuritasnya memperkirakan pertumbuhan ekspor tidak akan kembali menjadi positif sebelum tahun 2010.
China melakukan serangkaian langkah untuk mendukung ekspor seperti meningkatkan potongan pajak ekspor dan menyediakan pendanaan perdagangan untuk industri yang tertekan krisis.
Para analis mengatakan, China akan perlu melakukan langkah lanjutan untuk melawan stagnasi pada jasa pengapalan. Namun, pemerintah tampaknya tidak dapat melakukan langkah agresif karena sebelumnya telah menyerukan melawan proteksionisme.