Edhie Baskoro Unggul

Kompas.com - 13/04/2009, 09:32 WIB

Surabaya, KOMPAS.com - Edhie Baskoro, putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjadi calon anggota DPR nomor urut 3 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, untuk sementara meraih sekitar 191.000 suara.

”Dari penghitungan sementara kami di lima kabupaten yang masuk dalam Daerah Pemilihan Jatim VII, Mas Ibas meraih sekitar 191.000 suara. Setelah Mas Ibas, di bawahnya ada Ramadhan Pohan dengan selisih suara cukup jauh,” ujar Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Timur Sutoyo, Sabtu (11/4) di Surabaya.

Sutoyo menambahkan, potensi penambahan suara Ibas masih cukup besar karena penghitungan suara di Dapil Jatim VII belum final. Ada 10 caleg Partai Demokrat yang bertarung di Dapil Jatim VII tersebut.

Adapun Puan Maharani yang merupakan calon anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk sementara diperkirakan memperoleh suara terbanyak di Dapil V Jawa Tengah. Perolehan suara Puan yang merupakan anak Ketua Umum PDI-P Megawati bersaing ketat dengan perolehan suara Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Hal itu berdasarkan pantauan perkembangan penghitungan suara oleh tim sukses masing-masing, Sabtu (11/4).

Koordinator Sekretariat Posko Puan Maharani, Sugianto, mengatakan, dari 70-80 persen laporan saksi di TPS yang masuk, Puan meraih hampir 200.000 suara. Pihaknya menargetkan Puan bisa meraih 300.000 suara mengingat persaingan di Dapil V merupakan pertaruhan wajah partai. Suara tertinggi yang diraih Puan diharapkan bisa menjadi legitimasi untuk mendorong Puan sebagai tokoh nasional.

Selain Puan dan Hidayat Nur Wahid, sejumlah tokoh nasional terdaftar menjadi caleg di Dapil V Jateng, seperti Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi, mantan pebulu tangkis Icuk Sugiarto (PPP), dan tokoh buruh nasional Dita Indah Sari (PBR).

Hidayat Nur Wahid diperkirakan akan meraup total 150.000 suara. Muhammad Ikhlas Thamrin dari Tim Media Center Hidayat Nur Wahid mengungkapkan, pihaknya mengaku terkejut dengan perolehan suara Hidayat mengingat Dapil V Jateng merupakan basis PDI-P.

Dipasangnya Hidayat merupakan upaya PKS mendongkrak perolehan suara. ”Terbukti di Solo, pada Pemilu 2004, PKS di posisi keenam. Saat ini penghitungan sementara kami menunjukkan PKS berada di posisi ketiga setelah PDI-P dan Partai Demokrat. Partai di bawah kami selisihnya jauh,” kata Ikhlas.

Di Sumatera Selatan, caleg nomor urut 2 Partai Golkar, Dodi Reza Alex Noerdin, memperoleh 205.606 suara. Dodi adalah putra Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin dan juga Ketua Hipmi Sumsel. Menurut Dodi, targetnya adalah mendapatkan suara yang minimal bisa mengacu pada perolehan kursi di DPR.

Caleg nasional melaju

Caleg nasional sukses mendulang suara rakyat pada pemilihan umum yang digelar 9 April 2009. Caleg-caleg tersebut di antaranya adalah Pramono Anung dan Anas Urbaningrum yang bersaing ketat di Daerah Pemilihan Jawa Timur VI, yang meliputi Kabupaten/Kota Kediri, Blitar, dan Kabupaten Tulungagung.

Sekretaris Dewan Pengurus Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Kediri Wara Reny Permana, yang juga adik kandung Pramono Anung, mengatakan, walaupun hasil resmi penghitungan suara dari KPU Kota Kediri belum ada, pihaknya yakin mampu mendulang suara terbanyak.

”Di Kota dan Kabupaten Kediri saja prediksi kami Pramono mampu mendulang 15.000 suara. Bahkan ada salah satu kecamatan di Kota Kediri di mana ia mendapatkan suara sampai 6.000 lebih,” ujarnya, Minggu (12/4).

Prediksi PDI-P tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil analisis Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Kediri. Dari 60 tempat pemungutan suara (TPS) yang diambil sampel oleh Panwaslu Kota Kediri, Pramono menang tipis atas Anas Urbaningrum, calon anggota DPR dari Partai Demokrat.

Perolehan suara mereka bersaing ketat. Pramono mendapatkan 1.166 suara atau (8,08 persen), sedangkan Anas dari 60 TPS itu mendapatkan 1.132 suara atau sekitar 7,84 persen.

Perolehan suara KRMT Roy Suryo Notodiprojo, pakar telematika dan caleg Partai Demokrat dari Dapil Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terlihat paling tinggi dan sulit terkejar. Roy Suryo menyebut ini merupakan kemenangan masyarakat yang ingin politik bersih.

”Saya ingin memperlihatkan ke masyarakat bahwa bersih dalam politik itu bisa, asal orangnya mau. Sepeser pun saya tak pernah mengeluarkan uang untuk konstituen. Lha wong saya kan enggak punya konsituen,” ujarnya. (APO/NIK/PRA/EKI/ONI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau