CAPETOWN, KOMPAS.com — Festival Paskah di Macassar, Capetown, Afrika Selatan, berakhir Minggu (12/4) malam. Ratusan tenda yang dipakai masyarakat Cape Malays dibongkar Senin pagi ini dan mereka kembali ke rumah masing-masing. Kenangan akan acara tersebut diceritakan Hermawan Kertajaya dalam tulisan berikut:
Festival Paskah adalah kegiatan tahunan masyarakat muslim keturunan Indonesia yang dari tahun ke tahun semakin ramai dikunjungi. Biasanya, selain ziarah ke Kramat (kuburan) Syekh Yusuf asal Makassar, Sulsel, mereka yang hadir juga melakukan shalat dan zikir bersama di Masjid Nurul Latief yang ada di kompleks yang sama.
Salah satu yang menarik adalah acara di Panggung Utama yang disponsori VOC (Voice of the Cape), Radio siar Muslim di Capetown. KJRI Capetown selalu diminta mengisi panggung tersebut. Tadi malam, saya diajak naik panggung bersama Konjen Andradjati, ditemani Imam Adam Philander untuk bercerita tentang Indonesia.
Dalam kesempatan itu, saya mengatakan bahwa semua orang yang datang ke festival ini sudah tahu bahwa Islam dibawa oleh Syekh Yusuf yang orang Indonesia. Namun, banyak dari mereka yang belum pernah mendengar, apalagi berkunjung ke Indonesia.
Karenanya saya beri penjelasan singkat mengenai Indonesia. Saya jelaskan bahwa, secara geografis, Indonesia itu besar. Sabang sampai Merauke sama dengan Los Angeles sampai Miami. Penduduknya 237 juta orang dengan 400 dialek, tetapi memiliki satu bahasa nasional.
Saya juga mengatakan bahwa, seperti Afrika Selatan, Indonesia adalah negara demokratis, bahkan nomor tiga di dunia. Secara social culture, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia yang hidup damai. Orang Indonesia sangat memelihara toleransi.
Secara perekonomian, Indonesia nomor satu di ASEAN, dan merupakan satu di antara tiga negara di Asia bersama China dan India yang masih tumbuh positif di tengah krisis ekonomi global ini. Sebagai catatan, negaranya Nelson Mandela ini kuartal 4 tahun lalu mengalami negative growth. Kuartal satu tahun ini juga dikhawatirkan tumbuh negatif.
Konjen Andradjati juga minta kepada saya untuk menceritakan tentang Jalan Sutera dan penyebaran agama Islam dari China ke Indonesia lewat beberapa Wali. Saya ceritakan pula bahwa Islam juga datang dari India ke Sumatera dan Jawa Barat serta Banten.
Dengan bercerita santai seperti itu, Konjen Andradjati berharap supaya masyarakat Cape Malays yang berjumlah 800.000 orang ini jadi ingat kembali pada
akar budayanya.
Selain Talk Show, kemarin malam, digelar pula pertunjukan Pencak Silat dan Tari Saman dari Aceh yang dimainkan oleh orang-orang lokal. Mereka belajar dari seorang guru wanita yang pernah belajar di Indonesia.
Saya sendiri bertemu dengan beberapa orang yang pernah sekolah dan kuliah di Indonesia. Umumnya, mereka menyukai Indonesia. Karena itu, diharapkan akan ada lebih banyak lagi tawaran beasiswa dari sekolah atau universitas di Indonesia untuk mereka. "Yang penting, budaya dan agama ini bisa dipakai juga untuk jalur perdagangan," kata Andradjati.
Kemarin pagi, saya juga sempat diajak melihat produk-produk Indonesia di Mall Capetown. Angklung pun dijual di Cape Art and Craft di Canal Walk Mall di Century City.
Di situ saya juga melihat barang-barang kerajinan buatan Bali, Bandung, Yogyakarta, dan lainnya. Bentuknya antara lain gitar kecil, sepeda kecil, bahkan kendang Afsel.
Di toko retail besar seperti Woolworths dan Edgars yang tersebar di seluruh Afsel, ada banyak pakaian private label buatan Indonesia. Adapun di toko-toko furnitur ada banyak perabot kayu dari Indonesia.
Produk-produk serupa juga saya lihat di Victoria and Alfred Mall di Waterfront yang sangat terkenal di Capetown. Sayangnya, nama Indonesia hilang. "Neraca perdagangan Indonesia-Afsel sangat positif di kita. Tapi brand name Indonesia tidak ada," kata Andradjati mengeluh.
Cita-cita beliau, ada restoran Indonesia yang sekaligus juga bisa untuk jualan pakaian dan barang-barang kerajinan Indonesia. Dengan begitu, brand Indonesia akan bisa berkibar di Afsel, khususnya Capetown.
"Kan captive market sudah ada," tambah beliau menggebu.
Saya hari ini terbang balik ke Jakarta, setelah selama hampir seminggu tinggal di Wisma Indonesia bersama Konjen RI dan mengikuti beliau bekerja, baik sebagai diplomat, maupun marketer. Dan memang begitulah, diplomat Indonesia di mana-mana...me-marketing-kan Indonesia, di manapun berada.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang