JAKARTA, KOMPAS.com — Tim ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengakui, kelemahan daya pemahaman operator alias "gagap teknologi" di tingkat kabupaten/kota dalam mengoperasikan sistem. Kelemahan ini mengakibatkan lambatnya pemutakhiran data di Pusat Tabulasi Nasional Pemilu 2009 yang dipusatkan di Hotel Borobudur Jakarta.
Anggota Tim Ahli Teknologi Informasi dari BPPT yang melakukan pendampingan bagi Komisi Pemilihan Umum, Oskar Riandi, mengatakan, pihaknya menemukan banyaknya operator yang tidak terampil dan tidak terbiasa dalam mengoperasikan sistem intelligent character recognition (ICR) yang baru digunakan dalam Pemilu 2009. "Sehingga terjadi kegamangan operator di daerah," ujar Oskar dalam keterangan pers di Kantor KPU, Senin (13/4).
Kelambatan diperparah karena petugas TI pusat harus menghubungi satu persatu operator dan meminta mereka untuk melakukan perbaikan jika terjadi kesalahan entry data. Pasalnya, dalam banyak kasus, operator langsung mengirimkan hasil pembacaan formulir C1-IT sistem ICR kepada KPU Pusat tanpa membandingkannya dengan data image formulir C1-IT.
"Data yang salah yang masuk ke pusat tidak akan kami proses dan kami kembalikan lagi," ujarnya.
Kualitas kertas buruk
Selain kelemahan pada faktor operator, kualitas kertas formulir C1-IT yang buruk juga memengaruhi cepat-lambatnya pemutakhiran hasil penghitungan suara karena kualitas kertas memengaruhi kualitas pembacaan data oleh ICR. "Kalau kertas jelek maka performa ICR akan menurun," tutur Oskar.
Banyak KPU kabupaten/kota yang menggunakan kertas 60 gram, padahal standar pembacaan yang baik harus menggunakan kertas dengan berat minimal 70 gram. Ketidakseragaman kualitas model formulir C1-IT juga menjadi faktor penyebab kelambatan selanjutnya.
Seharusnya, menurut Oskar, di setiap sudut kertas formulir C1-IT terdapat corner mark untuk menandai area yang akan dibaca oleh ICR. Namun, formulir yang digunakan KPPS di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Timur tidak dilengkapi dengan corner mark.
Oskar mengatakan, pihaknya sendiri sedang berupaya memperbarui kemampuan ICR untuk mampu membaca data yang ditulis dalam formulir 60 gram sehingga dapat mengatasi masalah ini.
Pengaruh kualitas kertas yang buruk dalam pembacaan data juga diakui oleh pihak penyedia sistem IT, Rio Andita, dari CV RA Kreasi Teknologi Indonesia. Rio mengatakan, komputer akan kesulitan membaca jika kertas terlalu tipis. "Akibatnya, akurasi menurun sehingga data harus dimasukkan secara manual," ujar Rio.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang