Insiden Bersenjata Ganggu Perminyakan Nigeria

Kompas.com - 14/04/2009, 02:19 WIB

LAGOS, KOMPAS.com - Sejumlah orang bersenjata menyerang personel angkatan laut Nigeria yang menjaga fasilitas minyak Royal Dutch Shell di Delta Niger, Senin (13/4). Insiden itu menewaskan satu pelaut dan mencuri empat kapal cepat milik perusahaan itu, kata militer.
      
Serangan terhadap rumah kapal angkatan laut itu, yang terjadi di Nembe, negara bagian Bayelsa, pada Senin dinihari, tampaknya merupakan pembalasan atas penenggelaman empat kapal cepat kelompok militan pada akhir pekan oleh angkatan laut Nigeria, kata juru bicara militer Kolonel Rabe Abubakar.
      
Juru bicara Shell Precious Okolobo, mengatakan, tidak ada kerusakan pada fasilitas minyak atau dampak pada produksi. Namun, ia tidak memiliki penjelasan terinci lebih lanjut dan menyerahkan penyelidikan pada pasukan keamanan. "Serangan itu dilakukan secara bersama oleh (pemimpin-pemimpin militan) Kitikata dan Fara Dagogo," kata Abubakar.
      
"Malangnya dalam proses membela fasilitas itu, satu pelaut tewas, dua luka-luka ringan dan empat kapal cepat Shell dibawa oleh para penjahat," katanya.
      
Kelompok militan utama Nigeria MEND menyatakan tidak terlibat dalam penyerangan itu namun menyebut angka kematian yang lebih tinggi dengan mengatakan, tiga pelaut tewas, empat diculik dan dua kapal cepat angkatan laut dibawa oleh kelompok penyerang.
      
Delta Niger, sebuah kawasan industri gas dan minyak terbesar Afrika, dilanda serangan-serangan bom terhadap pipa saluran minyak dan penculikan pekerja minyak.
      
Namun, konfrontasi langsung dengan militer hampir tidak pernah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini.
      
Presiden Nigeria Umaru Yar’Adua telah menawarkan amnesti kepada orang-orang bersenjata di Delta Niger jika mereka setuju meletakkan senjata. Namun, kelompok militan menyebut tawaran itu sebagai kata-kata belaka.
      
Kelompok militan utama kawasan itu, Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND), memperingatkan pada Februari mengenai serangan-serangan terhadap perusahaan Italia, termasuk Agip, karena negara Eropa itu telah menawarkan dua kapal serang kepada militer Nigeria.
      
Italia menyatakan, mereka menawarkan kerja sama dan pelayanan kepada pemerintah Nigeria dalam memerangi penyelundupan narkoba dan kejahatan namun tidak ada tawaran tertentu mengenai kapal militer.
      
Pasukan keamanan Nigeria memukul balik serangan yang dilakukan orang-orang bersenjata terhadap terminal minyak Twon Brass milik Agip, di Bayelsa, pada akhir Februari. Produksi minyak di fasilitas itu tidak terpengaruh oleh insiden tersebut.
      
Kelompok MEND mengakhiri gencatan senjata pada 31 Januari setelah serangan militer terhadap salah satu kamp mereka di Delta Niger, dan memperingatkan mengenai serangan besar-besaran terhadap industri minyak.
      
MEND mengumumkan gencatan senjata pada September namun berulang kali mengancam akan memulai lagi serangan jika "diprovokasi" oleh militer Nigeria.
      
Seperlima

Kekerasan melanda negara Afrika tersebut dalam beberapa tahun terakhir ini. Keadaan tidak aman di Delta Niger, daerah penghasil minyak Nigeria, telah membuat produksi minyak Nigeria berkurang hingga seperlima sejak awal 2006.
      
Pada pertengahan Oktober, sejumlah orang bersenjata yang menggunakan perahu-perahu motor cepat menyerang kapal-kapal angkatan laut yang menjaga sejumlah terminal utama ekspor gas alam cair dan minyak mentah di Pulau Bonny.
      
Pasukan berhasil memukul mundur kelompok penyerang itu dan membunuh beberapa orang bersenjata setelah dua kapal cepat mereka ditenggelamkan, kata militer.
      
Keamanan di Delta Niger memburuk secara dramatis pada awal 2006 ketika militan, yang menyatakan berjuang untuk mencapai kendali lokal lebih besar atas kekayaan minyak di wilayah yang berpenduduk miskin itu, mulai meledakkan pipa-pipa minyak dan menculik pekerja asing.
      
Kelompok gerilya MEND pada 14 Januari mengancam akan mengakhiri gencatan senjata dengan menyerang militer setelah seorang pemimpin geng tewas dibunuh oleh pasukan sehari sebelumnya.
      
MEND mengumumkan gencatan senjata pada 21 September tahun lalu setelah serangan-serangan sepekan terhadap fasilitas industri minyak setelah peluncuran "perang minyak" yang dimaksudkan untuk membalas serangan militer terhadap posisi-posisi mereka.
      
Geng-geng kriminal juga memanfaatkan keadaan kacau dalam penegakan hukum dan ketertiban di wilayah itu. Lebih dari 200 warga asing diculik di kawasan delta tersebut dalam dua tahun terakhir. Hampir semuanya dari orang-orang itu dibebaskan tanpa cedera.
      
Nigeria adalah produsen minyak terbesar Afrika namun posisi tersebut kemudian digantikan oleh Angola pada April, menurut Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau