JK Merapat Kembali ke SBY

Kompas.com - 14/04/2009, 08:07 WIB

Jakarta, KOMPAS.com - Setelah berkompetisi dalam kampanye dan pemilu legislatif, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Senin (13/4), duduk semeja di Ruang Rapat Kantor Presiden, Jakarta. Mereka membahas rencana kerja pemerintah tahun 2010.

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, Senin malam, menemui Yudhoyono, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, di Puri Cikeas Indah, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Kalla tiba sekitar pukul 22.00.

Meski datang tanpa pengawalan mencolok dan patroli pembuka, kehadirannya cukup dikenali. Hanya dua mobil Toyota Innova, pendamping Kalla yang terparkir. Dua mobil itu berisi anggota Pasukan Pengamanan Presiden yang melekat pada Kalla.

Pukul 22.35, Kalla keluar dari halaman rumah Yudhoyono. Pukul 22.40, sedan yang ditumpanginya meninggalkan Cikeas. Terakhir kali Kalla ke Cikeas adalah saat muncul ketegangan setelah pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok tentang perolehan suara Golkar, Februari lalu. Kalla saat itu datang pada malam hari juga. Tak ada keterangan seusai pertemuan itu.

Penghitungan target

Seusai rapat di Kantor Kepresidenan, Yudhoyono menjelaskan, ”Meski ini tahun pemilu, RKP 2010 tetap harus dibuat dan menjadi tanggung jawab kita.”

Pengurus Partai Golkar yang juga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, seusai rapat kabinet, menambahkan, untuk koalisi, partainya mencari yang terbaik untuk bangsa. Apakah Susilo Bambang Yudhoyono yang terbaik untuk Golkar, ia berujar, ”Lihat saja pencapaiannya. Jika pencapaiannya terbaik, ya, terbaik.”

Dengan capaian suara menurut hitung cepat (quick count) dari sejumlah lembaga survei dan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Golkar tidak mencapai angka 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional sesuai dengan target awal. Hal itu membuat Golkar berhitung untuk mengajukan kadernya sebagai calon presiden.

Senin di Jakarta, menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu, partainya merencanakan tak melanjutkan penjaringan calon presiden yang kini seharusnya memasuki tahapan survei.

”Posisi nomor satu itu, menurut hitung-hitungan, tidak jadi the best choice, bukan pilihan yang terbaik,” ucap Burhanuddin. Jika Kalla berduet dengan Yudhoyono, dari sisi biaya politik kecil, tetapi mendapatkan keuntungan politik yang besar.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono menegaskan, wacana yang mengarah pada pengajuan Kalla sebagai calon wapres mendampingi Yudhoyono baru dibicarakan di pengurus pusat. Wawasan kenegaraan yang luas dan kebutuhan akan kinerja pemerintahan yang baik mendasari kecenderungan untuk menduetkan lagi keduanya.

Namun, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Barat Uu Rukmana di Bandung, Senin, mengatakan, daerahnya tetap mendukung pencalonan Kalla sebagai presiden pada Pemilu Presiden 2009. Penurunan suara Golkar dalam pemilu legislatif tidak perlu langsung direspons dengan membatalkan pencalonan Kalla.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Saifullah Yusuf menilai, duet Yudhoyono-Kalla adalah pilihan yang paling ideal. Kedua tokoh itu sudah bersama selama lima tahun sehingga bisa langsung bekerja untuk rakyat dengan melanjutkan program pembangunan yang belum selesai.

”Mereka juga komposisi yang baik, yaitu Jawa-luar Jawa, militer-sipil, dan bisa saling mengisi,” kata Saifullah.

Temui Gus Dur

Senin di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menemui Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur dirawat karena infeksi jamur.

Megawati didampingi suaminya, Taufik Kiemas. Gus Dur didampingi putrinya, Yenny Wahid. Megawati mengatakan, Gus Dur akan hadir di rumahnya di Jalan Teuku Umar, Selasa ini, untuk menyatakan keprihatinan terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2009. Akan hadir juga Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo Subianto, Wiranto, dan Bursah Zarnubi.

Yenny menilai ada banyak kejanggalan dalam pemilu kali ini. Dia khawatir itu dilakukan sistematik. Permasalahan daftar pemilih tetap, yang mulai mencuat dari Jawa Timur, menunjukkan ada kecurangan dan terdeteksi, tetapi tak pernah dikoreksi.

PKS ”mengancam”

Di Jakarta, Senin, Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta ”mengancam” akan menarik diri dari koalisi jika Yudhoyono memutuskan berduet lagi dengan Kalla. Kembali masuknya Partai Golkar dalam koalisi dengan Partai Demokrat justru berpotensi memperlemah ikatan kerja sama dalam koalisi.

PKS, lanjut Anis, kemungkinan akan mempertimbangkan ulang dukungan terhadap Yudhoyono. Jika Yudhoyono berduet dengan Kalla lagi, bisa jadi PKS sekadar menjadi pendukung, tetapi tidak masuk dalam koalisi. PKS mempertimbangkan menjadi kelompok yang independen, tak di pemerintah maupun blok oposisi.

Ketua Umum Dewan Tanfidz PKB Muhaimin Iskandar menyebutkan, komunikasi intensif menyangkut koalisi terus berlangsung antara Partai Demokrat dan PKB, PKS, serta Partai Amanat Nasional (PAN). ”Jika Golkar masuk, tak masalah,” ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Chozin Chumaidy pun mengakui, partainya relatif lebih nyaman bersama Yudhoyono. Pertautan kembali Yudhoyono-Kalla juga positif. Namun, pilihan PPP masih amat terbuka.

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Suhardi membenarkan adanya wacana memasangkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua DPP PDI-P Puan Maharani sebagai calon presiden dan wapres dalam pemilu presiden, Juli 2009. Dalam konteks itu, Megawati ditempatkan sebagai guru bangsa.  (sut/dik/inu/mam/dwa/myr/rek/hei)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau