Macan Tamil Terima Gencatan Senjata

Kompas.com - 15/04/2009, 06:32 WIB
 

KOLOMBO, KOMPAS.com - Gerakan Macan Pembebasan Tamil Eelam atau LTTE, Selasa (14/4), menyatakan siap menggelar gencatan senjata bilateral dengan tentara pemerintah. LTTE juga menginginkan pembicaraan politik untuk mengakhiri pertumpahan darah antaretnis itu.

LTTE berkomentar atas tawaran gencatan senjata dari pemerintah, untuk memberi waktu bagi penduduk sipil memasuki zona aman di Sri Lanka timur laut, markas LTTE yang mulai punah.

LTTE mengatakan, gencatan senjata dua hari itu tidaklah tulus, tetapi mereka siap diawasi oleh komunitas internasional. ”Gencatan senjata seperti itu juga harus berdasarkan negosiasi politik,” demikian pernyataan dari LTTE.

Lebih dari 50.000 tentara mengepung kawasan bebas tembakan seluas 17 kilometer persegi. Di tempat itu, LTTE menyandera ribuan penduduk sipil. Hal itu diungkapkan oleh Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa, Minggu (12/4) di Kolombo. Dia memerintahkan tentara berada dalam posisi bertahan untuk dua hari ke depan.

Gencatan senjata dua hari itu terkait dengan perayaan tahun baru etnis Sinhala dan Tamil. Rajapaksa menyerukan agar para pemberontak menyerah dan membebaskan tawanan yang dijadikan tameng manusia.

Tetap menembak

Sekretariat Perdamaian LTTE dalam pernyataannya melalui surat elektronik menyatakan, permintaan Rajapaksa hanyalah merupakan tipuan semata.

”Kami beranggapan pengumuman gencatan senjata dengan Pemerintah Sri Lanka hanyalah memberi kesempatan kepada para pegawainya. Kekuatan etnis Sinhala akan terus menyerang penduduk sipil dengan bom dan senjata,” demikian pernyataan LTTE, yang merupakan alat perjuangan etnis Tamil.

Departemen Pertahanan Sri Lanka menyatakan, para tentara telah mempelajari dengan saksama jeda kemanusiaan itu. Pada Senin (13/4), LTTE terus menembak sepanjang hari. Satu tentara terbunuh oleh penembak jitu.

PBB dan kelompok hak asasi manusia mengecam Pemerintah Sri Lanka karena mengisolasi daerah sipil. Pemerintah mengatakan bahwa propaganda LTTE dirancang untuk menciptakan tekanan internasional untuk kelahiran gencatan senjata.

Ribuan orang Tamil di berbagai tempat telah memprotes perihal gencatan senjata di beberapa kota di dunia. Namun, hanya sedikit yang berhasil dalam misinya, kecuali sekelompok orang Tamil yang berhasil merusak Kedutaan Besar Sri Lanka di Oslo, Norwegia, dan berakibat pada keputusan pemerintah menghapuskan peran Norwegia sebagai mediator perdamaian.

LTTE mengulangi lagi bahwa mereka akan menuruti gencatan senjata dan akan mengadakan diskusi politik tanpa prasyarat apa pun. ”Kami berharap gencatan senjata itu berada di bawah pengawasan komunitas internasional. Barulah akan produktif dan efektif,” demikian pernyataan Macan Tamil.

Para diplomat berupaya menjadi perantara untuk mengeluarkan penduduk sipil, tetapi Macan Tamil menolak membebaskan mereka. PBB menyatakan LTTE menembak penduduk yang berupaya melarikan diri dan memaksa yang lainnya bertarung atau bekerja paksa.

LTTE menolak berita itu dan mengatakan, warga telah memilih tinggal bersama mereka walau ada kenyataan sudah 65.000 yang melarikan diri dari kepungan LTTE tahun ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau