TEHERAN, KOMPAS.com -
Perkembangan itu dilaporkan stasiun televisi Iran dan kantor berita ISNA, Senin (13/4), mengutip pernyataan pemimpin tim negosiasi nuklir Iran, Saeed Jalili, yang ditelepon Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana.
Stasiun televisi itu menyebutkan, Solana menelepon guna mengajak Iran bergabung dalam dialog yang bertujuan untuk membuka era baru kerja sama.
Sebelumnya, 8 April lalu, keenam negara itu berencana meminta Solana mengundang Iran ikut hadir dalam pertemuan yang bertujuan mencari ”solusi diplomasi” atas isu nuklir.
Jalili dilaporkan ”menyambut baik dialog” untuk menjalin kerja sama yang konstruktif itu. Jalili juga menekankan pentingnya memiliki pemahaman yang benar mengenai berbagai kenyataan dan perkembangan yang terjadi di dunia.
Kesediaan memulai dialog itu juga menandakan perubahan besar-besaran dalam kebijakan Pemerintah AS di bawah Presiden Barack Obama.
Pada masa pemerintahan George W Bush, AS sama sekali tidak bersedia berunding langsung dengan Iran.
Pemerintah AS menyambut baik kesediaan Iran. ”Kami senang karena mereka tertarik berdialog,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Wood.
Wood menilai ”kelompok enam negara” itu menawarkan kompensasi yang menguntungkan, yakni bantuan di sektor perdagangan dan finansial sebagai imbalan penghentian program pengayaan uranium.
”Kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan Iran. Ini isu penting bagi komunitas internasional. Iran harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa program nuklirnya benar-benar untuk kepentingan damai,” kata Wood.
Harian New York Times menyebutkan, Pemerintah AS kemungkinan akan mencabut tuntutan terhadap Iran agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Para diplomat AS dan Uni Eropa disebutkan tengah mempertimbangkan akan memperbolehkan Iran melanjutkan program pengayaan uranium selama beberapa waktu.
Jika gagasan ini betul-betul dilaksanakan, berarti Iran akan menjadi ancaman bagi Israel. Pasalnya, selama ini dikabarkan bahwa Iran membangun kekuatan nuklir semata-mata untuk membangun senjata nuklir.
Menanggapi gagasan itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan, kini dunia meminta bantuan Iran untuk menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Ahmadinejad juga berharap pernyataan komunitas internasional—erutama AS—benar-benar ”tulus dan memahami status Iran”.(REUTERS/AFP/AP/LUK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang