Iran Siap Memulai Dialog dengan Barat Plus Rusia dan China

Kompas.com - 15/04/2009, 06:35 WIB
 
 

TEHERAN, KOMPAS.com - Pemerintah Iran menunjukkan indikasi kuat untuk memulai dialog konstruktif mengenai program nuklir dengan enam negara, yakni Amerika Serikat, Rusia, China, Perancis, Jerman, dan Inggris.

Perkembangan itu dilaporkan stasiun televisi Iran dan kantor berita ISNA, Senin (13/4), mengutip pernyataan pemimpin tim negosiasi nuklir Iran, Saeed Jalili, yang ditelepon Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana.

Stasiun televisi itu menyebutkan, Solana menelepon guna mengajak Iran bergabung dalam dialog yang bertujuan untuk membuka era baru kerja sama.

Sebelumnya, 8 April lalu, keenam negara itu berencana meminta Solana mengundang Iran ikut hadir dalam pertemuan yang bertujuan mencari ”solusi diplomasi” atas isu nuklir.

Jalili dilaporkan ”menyambut baik dialog” untuk menjalin kerja sama yang konstruktif itu. Jalili juga menekankan pentingnya memiliki pemahaman yang benar mengenai berbagai kenyataan dan perkembangan yang terjadi di dunia.

Perubahan sikap AS

Kesediaan memulai dialog itu juga menandakan perubahan besar-besaran dalam kebijakan Pemerintah AS di bawah Presiden Barack Obama.

Pada masa pemerintahan George W Bush, AS sama sekali tidak bersedia berunding langsung dengan Iran.

Pemerintah AS menyambut baik kesediaan Iran. ”Kami senang karena mereka tertarik berdialog,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Wood.

Wood menilai ”kelompok enam negara” itu menawarkan kompensasi yang menguntungkan, yakni bantuan di sektor perdagangan dan finansial sebagai imbalan penghentian program pengayaan uranium.

”Kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan Iran. Ini isu penting bagi komunitas internasional. Iran harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa program nuklirnya benar-benar untuk kepentingan damai,” kata Wood.

Harian New York Times menyebutkan, Pemerintah AS kemungkinan akan mencabut tuntutan terhadap Iran agar Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Para diplomat AS dan Uni Eropa disebutkan tengah mempertimbangkan akan memperbolehkan Iran melanjutkan program pengayaan uranium selama beberapa waktu.

Jika gagasan ini betul-betul dilaksanakan, berarti Iran akan menjadi ancaman bagi Israel. Pasalnya, selama ini dikabarkan bahwa Iran membangun kekuatan nuklir semata-mata untuk membangun senjata nuklir.

Menanggapi gagasan itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menyatakan, kini dunia meminta bantuan Iran untuk menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Ahmadinejad juga berharap pernyataan komunitas internasional—erutama AS—benar-benar ”tulus dan memahami status Iran”.(REUTERS/AFP/AP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau