Pemerintah Pilih Hemat daripada Utang

Kompas.com - 15/04/2009, 10:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski sudah mengantongi restu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah untuk sementara membuang jauh-jauh opsi menambah utang baru lagi. Pemerintah lebih memilih berhemat ketimbang menambal merosotnya penerimaan dari sektor perpajakan yang diperkirakan anjlok Rp 22,4 triliun dari target Rp 661,8 triliun.

Pemerintah akan mengencangkan anggaran kementerian dan lembaga (K/L). Caranya, lebih selektif dalam pengadaan barang dan jasa. Tapi, "Tidak ada pemotongan, hanya proses pengadaan harus lebih murah," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, Selasa (14/4).

Sayang, Anggito menolak menyebut kementerian atau lembaga mana saja yang akan menjadi target efisiensi anggaran nanti. Ia beralasan, pemerintah baru memantau perkembangan pembelanjaan anggaran kuartal satu, yang baru 11 persen dari total bujet sebesar Rp 322,3 triliun.

Sebagai catatan, dalam rapat dengan pemerintah pada 23 Februari 2009, DPR mengizinkan pemerintah mengambil langkah darurat andaikata penerimaan negara turun terlalu dalam. MisaInya, penghematan belanja, penarikan pinjaman siaga, dan penerbitan obligasi negara melebihi jatah APBN 2009.

Tapi, ini jelas berat buat pemerintah menambah utang lagi. Soalnya, sejak 2005 sampai Februari 2009, posisi utang pemerintah sudah bertambah Rp 420 triliun. Jumlah tersebut akan makin besar lantaran jatah utang tahun ini yang belum dipakai masih tersisa Rp 121,8 triliun.

Meski begitu, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis tetap memberi lampu hijau bagi pemerintah mencari utang baru lagi. Syaratnya, "Tidak boleh membebani masyarakat," ujarnya. (Hans Henricus B., Martina Prianti, SS Kurniawan/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau