Kaltim Tuan Rumah Temu Budaya 2011

Kompas.com - 16/04/2009, 01:27 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.COM--Pihak Provinsi Kaltim yang menjadi tuan rumah Temu Budaya Nasional pada 2011 mengaku sampai kini belum melakukan persiapan khusus mengenai event nasional tersebut, namun ternyata sudah banyak menerima tamu-tamu dari berbagai daerah terkait rencana kegiatan itu.

"Kami belum melakukan persiapan khusus selaku tuan rumah pada event nasional itu mengingat waktu pelaksaannya masih dua tahun lagi, namun ternyata sudah banyak tamu-tamu yang datang terkait rencana kegiatan nasional ini," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kaltim, Sutoro T, di Samarinda, Selasa.

Ia menjelaskan kedatangan sejumlah tamu dari berbagai daerah di Indonesia terkait agenda tersebut dengan beragam alasan, ada yang bertujuan melihat kondisi daerah yang ditunjuk sebagai tuan rumah,  menanyakan kesenian yang menonjol di Kaltim, atau delegasi dari beberapa provinsi yang hanya ingin melihat perbandingan budaya antardaerah.

"Bagi kami sebagai tuan rumah, kunjungan tamu-tamu dari berbagai daerah ini sangat bernilai dan kami sangat menghargainya, mengingat hal itu sebagai bentuk apresiasi terhadap event ini, mengingat waktu pelaksaan masih lama, yakni sekitar dua tahun lagi," papar dia.

Ia memaparkan bahwa agenda pada event tersebut antara lain rapat koordinasi para kepala taman budaya se- Indonesia, pameran budaya khas daerah, dan menyiapkan galeri untuk seni rupa yang meliputi patung, seni lukis dan seni pahat.

"Untuk galeri, kami sudah memilikinya, yakni ruang yang berada di sebelah kanan Gedung Utama Taman Budaya. Sekarang ruang itu sudah mulai kami rapikan. Dulu, ruang itu digunakan sebagai latihan tari dan musik. Saat ini untuk tempat latihan kami pindahkan ke gedung utama dan tempat lain yang cocok," katanya menerangkan.

Pihak tuan rumah pada acara itu, nantinya akan menyuguhkan berbagai atraksi seni daerah khas Kaltim, baik teater, musik tradisional tingkilan, serta beragam tarian dari berbagai sub-etnis Dayak serta dari Suku Melayu di Kaltim.

"Berbagai kesenian yang nantinya tampil tidak melulu peragaan kesenian tradisional, namun bisa seni hasil kolaborasi atau seni khas budaya setempat. Hasil kolaborasi itu, antara lain seni kreasi, tradisi kreasi atau kesenian hasil budaya daerah murni," katanya.

Hanya yang paling penting dijaga, katanya, adalah tempo peragaan kesenian yang seharusnya dibuat lebih padat karena melihat jumlah peserta begitu banyak sehingga terikat dengan waktu pertunjukan yang singkat.

"Konsekuensinya apabila waktu tidak kita batasi pada setiap atraksi, maka beberapa mata acara akan mengalami penundaan, atau beberapa aktraksi terpaksa tidak ditampilkan, persoalan itu nantinya kita khawatirkan menimbulkan masalah karena ada daerah yang melakukan protes akibat mereka tidak bisa tampil," imbuh dia.

"Bagi tuan rumah Kaltim, event ini membawa arti strategis bagi pengembangan budaya daerah, paling tidak memacu bagi seniman di daerah untuk meningkatkan kemampuannya, setelah melihat berbagai atraksi seniman dari seluruh wilayah Indonesia," katanya.

Ia menuturkan bahwa Kaltim yang tercatat sebagai provinsi terluas nasional itu, memiliki kesenian dan kebudayaan yang beragam, namun secara garis besar terbagi tiga, yakni kesenian pedalaman (Dayak), kesenian pesisir (masyarakat pantai/Melayu) serta kesenian yang hidup di keraton.

Kesenian yang hidup di keraton juga beragam karena di Kaltim dulunya hidup empat kesultanan besar, yakni Kesultanan Kutai, Kesultanan Berau, Kesultanan Bulungan dan Kesultanan Paser.

Sedangkan pada masyarakat pedalaman, yakni Suku Dayak sendiri terbagi atas belasan sub-etnis (anak suku) yang memiliki keberagaman budaya.

"Status sebagai tuan rumah juga sangat menguntungkan karena kebudayaan Kaltim akan kian dikenal, mengingat seluruh seniman di tanah air akan ambil bagian pada event ini," ujar dia.

Taman Budaya sebelumnya berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kaltim namun sejak 29 Februari 2009, berubah menjadi UPTD yang menjadi bagian dari Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.

"Dengan status baru ini, maka pengelolaan Taman Budaya agak lebih luas karena bukan sekedar untuk melestarikan budaya lokal namun juga untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata, apalagi Kaltim sudah mencanangkan program Tahun Wisata Kaltim 2010," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau