Israel Serang 17 Truk Pembawa Senjata

Kompas.com - 16/04/2009, 06:26 WIB

KOMPAS.com - Bak menonton film James Bond ketika membaca berita sebuah harian Arab, Selasa, 24 Maret lalu. Isinya tentang serangan udara singkat yang dahsyat atas konvoi 17 truk di dekat kota pelabuhan bernama Port Sudan.

Serangan udara itu sendiri terjadi pada pertengahan Januari lalu saat gencar-gencarnya serangan Israel ke Jalur Gaza. Serangan udara itu juga menewaskan 49 orang sopir dan para pengawal truk-truk. Penyerang berdalih, truk-truk itu membawa senjata Iran untuk diselundupkan ke Jalur Gaza via Sudan dan Mesir.

Perihal kebenaran berita serangan udara itu sudah dikonfirmasi oleh pejabat-pejabat tinggi di kawasan itu. Menlu Mesir Ahmed Aboul Gheit dalam wawancara dengan televisi Mesir, Al Mihwar, mengakui sudah mengetahui serangan, tetapi Mesir memilih diam karena tidak mau merisaukan Sudan.

Menteri Negara Sudan urusan Transportasi Mabruk Mubarak Salim juga mengatakan serangan udara itu terjadi pada pertengahan Januari.

Awalnya serangan itu masih berupa berita misterius. Namun, tidak sulit menunjuk siapa penyerang itu. Hanya ada dua kekuatan di Timteng yang mampu menyerang dalam radius ribuan km, yakni AS dan Israel. Jarak antara Israel dan Port Sudan sekitar 1.400 km. Pesawat tempur strategis Israel semacam F-15 dan F-16 bisa dengan mudah mencapai Port Sudan.

Israel punya pengalaman menyerang sasaran sejauh itu, seperti serangan udara Israel atas reaktor nuklir Irak di Osirak dekat Baghdad tahun 1981 dan serangan atas rumah Deputi Ketua PLO Abu Jihad di Tunisia tahun 1988. Jarak antara Israel dan Osirak hanya sekitar 1.000 km. Jarak antara Israel dan Tunisia 2.500-3.000 km.

Ehud Olmert, saat masih menjabat sebagai Perdana Menteri Israel, pada 26 Maret lalu berkomentar soal serangan udara di dekat Port Sudan. ”Tangan Israel itu panjang sampai ke mana-mana.”

Lepas dari itu, AS punya pangkalan udara di Djibouti yang tak jauh dari Sudan. AS punya kapal-kapal induk yang biasa lalu-lalang di Laut Merah. AS tinggal menerbangkan pesawat tempurnya dari Djibouti atau kapal induk yang ada di Laut Merah, dan hanya dalam hitungan menit sudah sampai ke sasaran mana pun di Sudan.

Kemungkinan lebih besar lagi, serangan udara itu adalah hasil koordinasi AS-Israel baik secara militer maupun intelijen. Koordinasi AS-Israel itu bukan hal baru. AS memberi bantuan logistik ketika pesawat tempur Israel menyerang Deputi Kepala PLO Abu Jihad di Tunisia.

AS juga memberi bantuan informasi intelijen dalam operasi militer Israel di berbagai tempat di Timur Tengah, seperti serangan udara Israel atas sebuah tempat di Suriah pada September 2007. Tempat tersebut diduga akan dijadikan pengembangan reaktor nuklir Suriah.

Sekarang koordinasi AS-Israel itu sudah semakin diresmikan melalui kesepakatan kerja sama AS-Israel bidang militer dan intelijen. Kesepakatan ini ditandatangani Tzipi Livni dan Condoleezza Rice, 16 Januari 2009 di Washington, saat keduanya menjabat sebagai Menlu.

Diulang lagi

Menurut Menteri Negara Sudan Mabruk Salim, serangan terjadi lagi pada Februari lalu di sebuah tempat di Sudan yang menewaskan 800 warga Sudan, Eritrea, Somalia, dan Etiopia yang membawa senjata ringan. Saat itu mereka sedang mencoba mencari jalan untuk hijrah ke Eropa. Pelaku serangan itu, ungkap Salim lagi, adalah pesawat tempur AS yang lepas landas dari sebuah kapal induk di Laut Merah.

Mengapa Sudan jadi sasaran?

Sudan adalah negara lemah. Negeri itu secara de facto telah tercabik-cabik secara geografis, sosial, dan politik. Pemerintah pusat Sudan pimpinan Presiden Omar Bashir praktis hanya menguasai secara efektif di kota Khartoum dan sekitarnya.

Di Darfur, Sudan Barat, telah terjadi peperangan dan bencana kemanusiaan sejak tahun 2003. Di Sudan Selatan yang berkuasa adalah pemerintah lokal dari Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA). Di Sudan Timur, terdapat pula SPLA front Timur. Karena itu, Sudan mudah disusupi siapa pun. Berbagai kepentingan yang saling bertentangan mudah masuk Sudan.

Osama bin Laden pernah tinggal di Sudan beberapa tahun pada dekade 1990-an. Bin Laden lalu diusir dari Sudan dan pindah ke Afganistan karena tekanan Barat. Bahkan, Sudan bisa mudah menjadi arena pertarungan antara kekuatan yang sedang berkonflik, misalnya Iran di satu pihak dan AS-Israel di pihak lain.

Realitas itulah yang kini sedang terjadi di Sudan, apalagi kini Presiden Sudan Omar Hassan Bashir sedang terjepit karena dituduh sebagai pelaku kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional. Bashir bisa jadi akan semakin merapat ke kubu Iran sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia Barat, yang dia tuduh berada di balik vonis Mahkamah Internasional.

Bashir pun akan mudah memberi fasilitas kepada Iran dan kubunya untuk berbagai kepentingannya. Jika itu yang terjadi, Sudan akan jadi salah satu pusat konflik, selain Palestina, Lebanon, Irak, dan Afganistan.

Serangan udara dahsyat setiap saat akan menimpa Sudan jika ada gerakan yang mencurigakan. Tidak akan ada gerakan di Sudan yang luput dari pantauan intelijen AS-Israel.

Sudan yang lemah sudah telanjur menjadi pusat aktivitas intelijen AS-Israel. Sudah juga menjadi bagian dari kesepakatan kerja sama militer-intelijen yang telah ditandatangani Livni dan Rice. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau