Awas! Jawa Jadi Pusat Peredaran Uang Palsu Terbesar

Kompas.com - 16/04/2009, 12:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Polri menegaskan, Pulau Jawa menjadi daerah peredaran uang palsu terbesar dibandingkan daerah lain. Hal ini karena Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk yang besar yang memicu peredaran uang palsu.

Wakil Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes (Pol) Subagyo memaparkan, peredaran uang palsu meningkat tahun 2008 dibandingkan tahun 2007 dengan daerah peredaran uang palsu terbesar adalah DKI Jakarta. Pada tahun 2008, terdapat 33 kasus dengan 48 tersangka.

Sementara itu di Jawa Barat tercatat 32 kasus dengan 50 tersangka. Di Banten terdapat 15 kasus dengan 16 tersangka. Pada tahun 2007 di DKI terdapat 16 kasus dengan 21 tersangka, Jawa Barat 8 kasus dengan 9 tersangka, dan Banten 5 kasus dengan 5 tersangka.

Modus pemalsuan uang dapat dilakukan dengan berbagai hal, antara lain peredaran uang palsu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tempat yang berpotensi aman untuk mengedarkannya. "Orang memalsu uang tidak langsung diedarkan, tetapi disimpan dulu. Kemudian diuji coba dengan meluncurkannya sebagian, tidak sekaligus. Alatnya juga sudah disingkirkan sehingga kalau ketahuan sudah disingkirkan dan tidak ada bukti," tuturnya.

Biasanya, pelaku melakukan kejahatan secara berkelompok dengan organisasi yang sangat rapi. "Belum tentu otak pelakunya bisa ditangkap, masih banyak yang belum tertangkap," ujarnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau