Layanan kesehatan

Atasi Perdarahan pada Penderita Hemofilia

Kompas.com - 17/04/2009, 04:51 WIB

Jakarta, Kompas - Perdarahan pada penderita hemofilia atau kelainan perdarahan genetik bisa menimbulkan kecacatan bahkan kematian bila tak segera diatasi. Namun, akses penderita terhadap pengobatan masih minim karena harga obat sangat mahal, keterbatasan persediaan obat, dan fasilitas terapi.

Menurut Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia Prof Moeslichan SpA(K), Kamis (16/4) di Jakarta, dalam rangkaian peringatan Hari Hemofilia Sedunia, akses penderita hemofilia terhadap pengobatan amat minim.

Ini terjadi karena mahalnya harga obat, sekitar Rp 10 juta atau lebih, untuk satu episode perdarahan. Bagi keluarga miskin di Jakarta kini sudah ada program jaminan. Namun, keluarga berkemampuan menengah yang tak dijamin asuransi amat terbebani dengan harga obat itu.

Apalagi ketersediaan obat pendukung hemofilia dan instalasi transfusi darah terbatas. Distribusi obat pendukung hidup penderita hemofilia tak merata. ”Persediaan faktor VIII rekombinan di tiap negara terbatas,” kata Prof Djajadiman Gatot dari Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Kemampuan para tenaga kesehatan di lini pelayanan kesehatan dasar dalam mendiagnosis dan menangani kasus hemofilia juga perlu ditingkatkan. Meski sudah jadi materi kuliah, banyak dokter dan tenaga kesehatan lain kurang terlatih menangani penyakit itu karena kasus hemofilia di Indonesia relatif sedikit.

Perawatan komprehensif

Djajadiman menjelaskan, hemofilia adalah kelainan darah diturunkan dari orangtua pada anaknya di mana protein pembentuk pembekuan darah tidak ada atau sangat sedikit. Hemofilia A adalah jenis paling umum yang terjadi karena kekurangan atau sangat sedikitnya protein pembekuan darah atau faktor VIII.

Saat penderita hemofilia berdarah, mereka mengalaminya dalam waktu lebih lama. Tingkat keparahan individu tergantung jumlah faktor pembekuan darah yang ada dalam darah mereka.

Pada penderita hemofilia berat lebih sering mengalami perdarahan pada sendi. Pendarahan sering terjadi secara spontan tanpa tahu penyebabnya. Adapun penderita tingkat ringan biasanya hanya mengalami pendarahan setelah operasi atau luka besar.

Perdarahan berulang karena tidak ada terapi tepat dan dapat merusak tulang rawan dan tulang pada sendi yang menyebabkan arthritis dan kecacatan. Beberapa jenis pendarahan mengancam nyawa dan butuh terapi cepat, misal perdarahan dalam kepala, kerongkongan, dan usus.

Meski tidak bisa disembuhkan, perkembangan pengobatan hemofilia maju pesat. Kini kondisi penderita dapat dikontrol dengan penyuntikan faktor pembeku yang hilang, seperti faktor VIII pada hemofilia A. ”Karena mahal, terapi biasanya dilakukan pada insiden perdarahan akut untuk mencegah kehilangan darah secepat mungkin,” ujarnya.

Penggunaan konsentrat faktor pembekuan darah secara teratur dapat mencegah terjadinya perdarahan dan membantu mengurangi atau menghindari kerusakan sendi.

Dengan pengobatan dan perawatan memadai, sekitar 400.000 penderita hemofilia A di dunia dapat hidup sehat. ”Perawatan komprehensif penting bagi penderita hemofilia melalui pengobatan fisik, emosional, psikologis, pemenuhan kebutuhan sosial dan edukasi,” kata Moeslichan. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau