Gembong Utama Mafia Ditangkap

Kompas.com - 17/04/2009, 06:34 WIB
 

BOGOTA, KOMPAS.com - Gembong narkoba paling dicari di Kolombia, Daniel Rendon Herrera alias Don Mario (43), ditangkap di tempat persembunyiannya, Rabu (15/4). Rendon gemetar ketakutan di bawah pohon palem saat diringkus polisi dalam operasi di hutan dekat perbatasan Kolombia-Panama.

Sekitar 300 polisi terlibat dalam operasi di hutan di kota San Jose de Apartado, Provinsi Antioquia. Menteri Pertahanan Kolombia Juan Manuel Santos menuturkan, saat ditemukan, Rendon sendirian, sedang makan nasi, dan bersembunyi di bawah pohon palem. Dia telah berada di tempat itu selama dua hari.

Pejabat Kolombia telah menawarkan hadiah hingga 2 juta dollar AS (Rp 21,8 miliar) untuk informasi yang bisa membantu penangkapan Rendon. Dia diyakini menguasai jalur penyelundupan narkoba dan senjata melalui hutan belantara di utara Kolombia ke Amerika Tengah.

Rendon memimpin sebuah kelompok yang terdiri atas sekitar 1.500 tentara bayaran yang semula anggota milisi sayap kanan Unit Pertahanan Diri Kolombia (AUC) yang telah dibubarkan tahun 2003. Dia diyakini bekerja sama dengan pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Kelompok Rendon menyelundupkan hingga 100 ton kokain ke AS dan bertanggung jawab atas 3.000 pembunuhan dalam 18 bulan terakhir.

Presiden Kolombia Alvaro Uribe menggambarkan Rendon sebagai ”salah satu gembong narkoba paling ditakuti di dunia”. Dia mengatakan, perencanaan yang sabar dan kerja intelijen selama sembilan bulan berhasil menangkap gembong narkoba itu.

”Penangkapan dia (Rendon) sangat melegakan. Ini adalah operasi yang lama dan penuh kesabaran. Hari demi hari Kolombia membebaskan diri dari kejahatan ini,” kata Uribe.

Penangkapan Rendon menyusul serangkaian kekerasan antargeng narkoba di Medellin, ibu kota Antioquia, yang menewaskan 31 orang, pekan lalu. Gubernur Antioquia Luis Alfredo Ramos berharap penangkapan Rendon bisa membantu mengakhiri kekerasan di wilayahnya.

Cepat digantikan

Awal tahun ini, Kolombia memperketat operasi memburu Rendon. Ketika semakin tersudut, Rendon menawarkan 1.000 dollar AS kepada anak buahnya untuk satu polisi yang mereka bunuh.

Kekejian Rendon mengingatkan warga Kolombia pada gembong narkoba kenamaan, Pablo Escobar, yang menyatakan perang kepada pemerintah sampai dia tewas ditembak di kota Medellin tahun 1993.

Milisi sayap kanan AUC yang dipimpin Rendon pada awalnya dibentuk untuk melawan penculikan dan penyiksaan oleh pemberontak sayap kiri. AUC lalu berubah menjadi mafia regional yang bertanggung jawab atas 10.000 pembunuhan, operasi penyelundupan kokain, dan pencurian jutaan are tanah.

Adik Rendon, Daniel alias Freddy Si Jerman, menguasai wilayah hutan belantara di dekat perbatasan Panama yang telah lama menjadi jalur utama penyelundupan narkoba dan senjata. Daniel termasuk pemimpin milisi terakhir yang ditangkap dan setuju untuk dipenjara dengan imbalan pengurangan hukuman dan perlindungan dari ekstradisi ke AS.

Meskipun penangkapan Rendon adalah prestasi besar, analis mengatakan, perdagangan kokain di Kolombia tampaknya tidak akan terganggu terlalu lama. ”Don Mario adalah gembong narkoba terpenting di sini, tetapi orang lain akan menggantikan posisinya dengan cepat dan semua akan kembali menjadi seperti biasa,” kata Pablo Casas, analis keamanan.

”Struktur organisasinya sudah seperti perusahaan, di mana pemimpin umum bisa diganti setiap saat,” ujar Casas.

Sebagian besar kokain dari Kolombia diselundupkan ke AS melalui Meksiko.(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau