Hubungan Strategis Iran-Hezbollah

Kompas.com - 18/04/2009, 06:43 WIB

Oleh Mustafa Abd Rahman

KOMPAS.com - Iran dan Hezbollah secara politik dan militer semakin dipandang, bak dua sisi mata uang, alias semakin tidak terpisahkan satu sama lain. Bagi Iran, Hezbollah adalah kartu strategisnya yang menjadi kepanjangan tangan kepentingan Teheran di Timur Tengah (Timteng).

Hezbollah pun merupakan pilar utama dalam lingkaran kubu antihegemoni AS dan Israel di Timteng yang di dalamnya terdapat Suriah, Hamas, Iran, Jihad Islami, dan kelompok Syiah Al Mahdi pimpinan Moqtada Al Sadr di Irak.

Hezbollah yang didirikan tahun 1982 oleh pengawal revolusi Iran semula ditujukan melawan pendudukan Israel di Lebanon Selatan. Namun, kini misi itu meluas, tidak hanya di Lebanon, tetapi juga di mana pun asalkan satu sasaran, yaitu membendung hegemoni AS dan Israel.

Tidak heran jika Hezbollah ikut melatih milisi Syiah bersenjata di Irak, khususnya pasukan Al Mahdi pimpinan Moqtada Al Sadr, untuk melawan pasukan AS. Hezbollah kini menyebarkan pula anggotanya di Mesir sebagai pintu masuk untuk membantu Hamas melawan Israel di Jalur Gaza.

Iran dan Hezbollah ditengarai memberi pelatihan militer kepada pengikut kelompok Al Khutsi di Yaman yang tengah berperang dengan pasukan Yaman. Hezbollah pun pasti siap merambah ke negara lain, demi satu tujuan: membendung hegemoni AS dan Israel.

Aksi Hezbollah melebarkan sayapnya itu seiring dengan ambisi Iran memperluas pengaruhnya di Timteng dalam konteks pertarungan besar dengan AS dan Israel.

Peperangan besar di Timteng terakhir ini tak lepas dari latar belakang konflik Iran-Hezbollah di satu pihak dan AS-Israel dipihak lain. Misalnya, agresi Israel ke Lebanon, Juli 2006, menyusul aksi Hezbollah menangkap dua serdadu Israel di perbatasan Israel-Lebanon saat itu.

Misalnya juga, pertempuran antara milisi bersenjata Syiah Al Mahdi di satu pihak dan pasukan Pemerintah Irak serta AS di pihak lain pada bulan Maret 2008 yang menelan korban ratusan jiwa dari kedua pihak.

Popularitas Iran

Iran berhasil meraih popularitas di Timteng karena Iran, sejak revolusi tahun 1979, memberi daya pikat kuat kepada gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Islam. Iran pun selalu mengulurkan tangan memberi bantuan moril ataupun materiil terhadap gerakan-gerakan Islam, khususnya gerakan bermazhab Syiah.

Iran selalu menemukan pijakan di negara-negara lemah atau sedang mengalami kekacauan, seperti Lebanon, Afganistan, Irak, Yaman, Sudan, dan Palestina.

Aliansi lalu terjalin antara Iran dan kekuatan-kekuatan politik di banyak negara yang sehaluan secara politik. Di Lebanon, terjalin Iran-Hezbollah. Di Afganistan, ada duet Iran-aliansi Utara pada era Taliban untuk melawan kekuasaan Taliban yang semula didukung AS dan Pakistan sebelum terjadi tragedi 11 September 2001.

Kini di Afganistan, terbentuk aliansi Iran-Hadara yang bermazhab Syiah. Di Yaman, disinyalir ada aliansi Iran-kelompok Al Khutsi yang sedang berperang dengan Pemerintah Yaman.

Di Sudan, Iran punya hubungan kuat dengan Presiden Omar Hassan Bashir. Di Palestina, Iran menjalin hubungan kuat dengan Hamas.

Di Aljazair, punya hubungan kuat pula dengan pengikut dan simpatisan FIS (Front Penyelamat Islam). Iran adalah pengkritik keras tindakan militer mengkudeta hasil pemilu 1991 yang dimenangkan FIS.

Akan tetapi, hubungan Iran-Hezbollah lebih spesial, dibanding hubungan Iran dan gerakan-gerakan Islam lainnya. Iran memiliki lembaga khusus bernama Divisi Al Quds yang merupakan sayap urusan luar negeri dari pengawal revolusi.

Divisi Al Quds adalah perancang dan penanggung jawab proyek pengembangan pengaruh Iran di luar negeri. Hezbollah merupakan cabang istimewa dari Divisi Al Quds. Hezbollah sering melaksanakan tugas-tugas khusus dari Divisi Al Quds itu.

Komandan Divisi Al Quds saat ini dipegang Jenderal Qasim Sulaimani yang merupakan salah seorang perwira tinggi cemerlang di Iran. Jenderal Qasim Sulaimani di bawah komando langsung Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei. Divisi Al Quds mendapat anggaran 2 miliar dollar AS per tahun dari Ali Khamenei.

Komandan militer Hezbollah, Imad Mughniyeh, yang tewas di Damascus pada Februari 2008 adalah penanggung jawab koordinasi Divisi Al Quds di Lebanon dan Suriah. Mughniyeh juga koordinator hubungan Iran dan faksi-faksi Palestina.

Hubungan Iran-Hezbollah juga diperkuat oleh adanya kesamaan pandangan terhadap kepemimpinan Wilayat Al Fakih. Wilayat Al Fakih adalah sistem kekuasaan yang diterapkan di Iran saat ini. Hezbollah menjadi pembela kuat sistem kepemimpinan Wilayat Al Fakih yang diciptakan Pemimpin Revolusi Iran Ayatollah Imam Khomeini.

Salah satu butir piagam pembentukan Hezbollah berbunyi ”Kami adalah kader-kader umat Hezbollah, di mana Allah SWT telah memberi anugerah kemenangan pertama di Iran. Kami komitmen menaati perintah pimpinan adil yang telah diwakili oleh Wali Al Fakih”.

Pemimpin Hezbollah Sheikh Hassan Nasrullah menegaskan, Wilayat Al Fakih adalah sistem kekuasaan yang harus diterapkan, sambil menunggu kedatangan Imam Al Mahdi yang ditunggu-tunggu.

”Kami mengikuti Wali Al Fakih dan tak akan membangkang. Sistem kekuasaan Wilayat Al Fakih setara seperti kekuasaan Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib. Tegaknya kekuasaan Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali adalah sebuah keharusan, begitu juga tegaknya kekuasaan Wilayat Al Fakih,” tegas Hassan Nasrullah.

Dalam upaya memperkuat kepemimpinan Wilayat Al Fakih, Iran secara rutin dan intensif mengirim ulama-ulama Syiah ke Lebanon untuk memperkuat pengaruh Hezbollah dengan cara membangun jaringan media, pendidikan, dan lembaga kebudayaan.  Iran dan Hezbollah juga beraksi melawan kelompok Syiah yang menolak kepemimpinan Wilayat Al Fakih dan revolusi di Iran pimpinan Imam Khomeini.

Di kalangan Syiah kini terpecah tentang siapa pemimpin tertinggi kaum Syiah. Sebagian besar kaum Syiah mengakui Imam Besar Ayatollah Ali Sistani yang berdomosili di Najaf, Irak, saat ini merupakan pemimpin tertinggi Syiah, bukan Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ali Sistani juga dikenal tidak mengakui sistem kekuasaan Wilayat Al Fakih yang kini diterapkan di Iran.

Namun, Iran dan Hezbollah kini berupaya memindah tempat kepemimpinan Syiah tertinggi dari Irak ke Iran pascawafatnya Ali Sistani dan menyatukan sikap kaum Syiah untuk menerima Wilayat Al Fakih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau