KOMPAS.com - Iran dan Hezbollah secara politik dan militer semakin dipandang, bak dua sisi mata uang, alias semakin tidak terpisahkan satu sama lain. Bagi Iran, Hezbollah adalah kartu strategisnya yang menjadi kepanjangan tangan kepentingan Teheran di Timur Tengah (Timteng).
Hezbollah pun merupakan pilar utama dalam lingkaran kubu antihegemoni AS dan Israel di Timteng yang di dalamnya terdapat Suriah, Hamas, Iran, Jihad Islami, dan kelompok Syiah Al Mahdi pimpinan Moqtada Al Sadr di Irak.
Hezbollah yang didirikan
Tidak heran jika Hezbollah ikut melatih milisi Syiah bersenjata di Irak, khususnya pasukan Al Mahdi pimpinan Moqtada Al Sadr, untuk melawan pasukan AS. Hezbollah kini menyebarkan pula anggotanya di Mesir sebagai pintu masuk untuk membantu Hamas melawan Israel di Jalur Gaza.
Iran dan Hezbollah ditengarai memberi pelatihan militer kepada pengikut kelompok Al Khutsi di Yaman yang tengah berperang dengan pasukan Yaman. Hezbollah pun pasti siap merambah ke negara lain, demi satu tujuan: membendung hegemoni AS dan Israel.
Aksi Hezbollah melebarkan sayapnya itu seiring dengan ambisi Iran memperluas pengaruhnya di Timteng dalam konteks pertarungan besar dengan AS dan Israel.
Peperangan besar di Timteng terakhir ini tak lepas dari latar belakang konflik Iran-Hezbollah di satu pihak dan AS-Israel
Misalnya juga, pertempuran antara milisi bersenjata Syiah Al Mahdi di satu pihak dan pasukan Pemerintah Irak serta AS di pihak lain pada bulan Maret 2008 yang menelan korban ratusan jiwa dari kedua pihak.
Iran berhasil meraih popularitas di Timteng karena Iran, sejak revolusi tahun 1979, memberi daya pikat kuat kepada gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Islam. Iran pun selalu mengulurkan tangan memberi bantuan moril ataupun materiil terhadap gerakan-gerakan Islam, khususnya gerakan bermazhab Syiah.
Iran selalu menemukan pijakan di negara-negara lemah atau sedang mengalami kekacauan, seperti Lebanon, Afganistan, Irak, Yaman, Sudan, dan Palestina.
Aliansi lalu terjalin antara Iran dan kekuatan-kekuatan politik di banyak negara yang sehaluan secara politik. Di Lebanon, terjalin Iran-Hezbollah. Di Afganistan, ada duet Iran-aliansi Utara pada era Taliban untuk melawan kekuasaan Taliban yang semula didukung AS dan Pakistan sebelum terjadi tragedi 11 September 2001.
Kini di Afganistan, terbentuk aliansi Iran-Hadara yang bermazhab Syiah. Di Yaman, disinyalir ada aliansi Iran-kelompok Al Khutsi yang sedang berperang dengan Pemerintah Yaman.
Di Sudan, Iran punya hubungan kuat dengan Presiden Omar Hassan Bashir. Di Palestina, Iran menjalin hubungan kuat dengan Hamas.
Di Aljazair, punya hubungan kuat pula dengan pengikut dan simpatisan FIS (Front
Akan tetapi, hubungan Iran-Hezbollah lebih spesial, dibanding hubungan Iran dan gerakan-gerakan Islam lainnya. Iran memiliki lembaga khusus bernama Divisi Al Quds yang merupakan sayap urusan luar negeri dari pengawal revolusi.
Divisi Al Quds adalah perancang dan penanggung jawab proyek pengembangan pengaruh Iran di luar negeri. Hezbollah merupakan cabang istimewa dari Divisi Al Quds. Hezbollah sering melaksanakan tugas-tugas khusus dari Divisi Al Quds itu.
Komandan Divisi Al Quds saat ini dipegang Jenderal Qasim Sulaimani yang merupakan salah seorang perwira tinggi cemerlang di Iran. Jenderal Qasim Sulaimani di bawah komando langsung Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei. Divisi Al Quds mendapat anggaran 2 miliar dollar AS per tahun dari Ali Khamenei.
Komandan militer Hezbollah, Imad Mughniyeh, yang tewas di Damascus pada Februari 2008 adalah penanggung jawab koordinasi Divisi Al Quds di Lebanon dan Suriah. Mughniyeh juga koordinator hubungan Iran dan faksi-faksi Palestina.
Hubungan Iran-Hezbollah juga diperkuat oleh adanya kesamaan pandangan terhadap kepemimpinan Wilayat Al Fakih. Wilayat Al Fakih adalah sistem kekuasaan yang diterapkan
Salah satu butir piagam pembentukan Hezbollah berbunyi ”Kami adalah kader-kader umat Hezbollah, di mana Allah SWT telah memberi anugerah kemenangan pertama di Iran. Kami komitmen menaati perintah pimpinan adil yang telah diwakili oleh Wali Al Fakih”.
Pemimpin Hezbollah Sheikh Hassan Nasrullah menegaskan, Wilayat Al Fakih adalah sistem kekuasaan yang harus diterapkan, sambil menunggu kedatangan Imam Al Mahdi yang ditunggu-tunggu.
”Kami mengikuti Wali Al Fakih dan tak akan membangkang. Sistem kekuasaan Wilayat Al Fakih setara seperti kekuasaan Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib. Tegaknya kekuasaan Nabi Muhammad SAW dan Imam Ali adalah sebuah keharusan, begitu juga tegaknya kekuasaan Wilayat Al Fakih,” tegas Hassan Nasrullah.
Dalam upaya memperkuat kepemimpinan Wilayat Al Fakih, Iran secara rutin dan intensif mengirim ulama-ulama Syiah ke Lebanon untuk memperkuat pengaruh Hezbollah dengan cara membangun jaringan media, pendidikan, dan lembaga kebudayaan. Iran dan Hezbollah juga beraksi melawan kelompok Syiah yang menolak kepemimpinan Wilayat Al Fakih dan revolusi di Iran pimpinan Imam Khomeini.
Di kalangan Syiah kini terpecah tentang siapa pemimpin tertinggi kaum Syiah. Sebagian besar kaum Syiah mengakui Imam Besar Ayatollah Ali Sistani yang berdomosili di Najaf, Irak, saat ini merupakan pemimpin tertinggi Syiah, bukan Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ali Sistani
Namun, Iran dan Hezbollah kini berupaya memindah tempat kepemimpinan Syiah tertinggi dari Irak ke Iran pascawafatnya Ali Sistani dan menyatukan sikap kaum Syiah untuk menerima Wilayat Al Fakih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang