Geliat Properti di Jabodetabek

Kompas.com - 20/04/2009, 07:03 WIB
KOMPAS.com - Industri properti di Jakarta dan Bodetabek masih bergairah. Pemilik uang masih melihat peluang investasi di bidang properti menguntungkan. Lihatlah pusat-pusat perbelanjaan yang dilengkapi dengan pusat gaya hidup, apartemen, dan gedung perkantoran terus dibangun di berbagai wilayah.

Selain itu, kelas menengah di Jabodetabek terus tumbuh. Mereka butuh tempat tinggal dan aktivitas bisnis maupun hiburan.

Menurut kalangan pelaku bisnis properti, sebanyak 22,5 juta penduduk Indonesia menerima pendapatan per kapita 6.000 dollar AS dan 22,5 juta lainnya menerima 3.000 dollar AS. Berarti ada 50 juta penduduk Indonesia yang menerima pendapatan 3.000 dollar AS ke atas. Jumlah kelas menengah ini diperkirakan akan terus bertambah dan sebagian naik kelas.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah mencanangkan kawasan Jalan Dr Satrio sebagai kawasan wisata belanja yang memiliki trotoar lebar yang memanjakan pejalan kaki, seperti Orchard Road di Singapura, Bintang Walk di Kuala Lumpur, atau Champ Elysees di Paris.

Selama ini banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Mereka berkunjung ke Negeri Singa hanya untuk membeli ”suasana” seperti di Orchard Road.

Fauzi Bowo yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta ini paham betul kondisi itu.

Oleh sebab itu, ia mendukung pengembang yang membangun megaproyek Kuningan City dan Ciputra World di Jalan Dr Satrio dan menciptakannya menjadi shopping belt dan kawasan gaya hidup modern dengan trotoar selebar 20 meter.

Sebenarnya, pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta sudah lebih bagus dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Lihatlah Grand Indonesia Shopping Town seluas 250.000 meter persegi dan Plaza Indonesia (62.747 m) di kawasan Bundaran HI di jantung Jakarta, Pacific Place (73.016 m) di kawasan bisnis Sudirman, Senayan City dan Plaza Senayan di kawasan Senayan, serta Mal Pondok Indah di kawasan Pondok Indah.

Semua barang bermerek dengan brand internasional dijual di mal-mal ini.

Tahun 2008-2009, sebanyak 10 pusat perbelanjaan baru dibuka di Jabodetabek. Menurut catatan Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pusat perbelanjaan itu adalah FX Lifestyle Mall (30.000 m) di kawasan Sudirman dan Plaza Indonesia Extension (45.325 m) di kawasan Thamrin (Jakarta Pusat), Pejaten Village (58.000 m) di kawasan Warung Buncit dan Blok M Square (185.000 m) di kawasan Blok M (Jakarta Selatan).

Empat pusat belanja di Jakarta Utara bersaing ketat, yaitu Pluit Junction (50.000 m), Pluit Village (86.588 m), Emporium Pluit Mall (170.000 m) di kawasan Pluit, dan Mall of Indonesia, Kelapa Gading Square di kawasan Kelapa Gading.

Di luar Jakarta, ada Bekasi Square (65.000 m) di Bekasi dan Teraskota di BSD, Tangerang.

Tahun 2010 bakal beroperasi Central Park Mall Podomoro City di Jakarta Barat, Kemang Village, Kuningan City dan Kota Kasablanka, serta Gandaria City di Jakarta Selatan.

Terus naik

Timbul pertanyaan besar, mengapa kian banyak pemodal dan pemilik uang membangun dan membeli properti di Jakarta dan Bodetabek?

Pengamat properti Panangian Simanungkalit berpendapat, dibandingkan dengan properti di Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Jepang, Hongkong, dan Amerika Serikat, nilai properti di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Bodetabek, terus meningkat.

”Saat krisis global seperti sekarang, nilai properti di banyak negara jatuh, tetapi di Jakarta, nilai properti malah naik. Properti di Indonesia tidak bergantung pada orang asing seperti di Thailand. Para pemain properti sebagian besar orang Indonesia,” ungkap Panangian.

Dia memprediksikan properti di Jabodetabek akan mengalami booming pada tahun 2011. ”Saya optimistis karena ini faktor siklus yang berjalan alamiah. Apalagi suku bunga akan turun lagi. Jadi pemilik uang tidak ragu-ragu membelanjakan properti karena pasti mendatangkan keuntungan berlipat ganda,” ujarnya.

Seandainya orang Indonesia yang memiliki properti di banyak negara menjualnya kembali, lalu membeli properti baru di Jakarta, properti Indonesia diprediksi akan semakin bergairah.

Saat ini, menurut catatan Panangian, ada 140.000 unit properti milik orang Indonesia di luar negeri dengan nilai seluruhnya Rp 700 triliun atau rata-rata Rp 5 miliar per unit.

Kalau 10 persen dari pemilik properti di luar negeri itu membeli juga di Jakarta dan Bodetabek, industri properti kita betul-betul berkibar dan booming.

Properti di Jakarta di lokasi emas antara lain Kuningan, Gatot Subroto, MH Thamrin, Pondok Indah, Dharmawangsa, Kemang, Permata Hijau, Simprug, Blok M, Fatmawati, Tanjungduren, Kembangan, Kebon Jeruk, Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Pluit, dan Ancol.

Properti di kawasan-kawasan ini terus tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, nilai tanah dan bangunan menjadi berlipat ganda.

Panangian melihat Serpong juga menjadi kawasan emas di luar Jakarta yang memikat banyak pengembang besar, yang membangun kawasan Gading Serpong, BSD City, dan Alam Sutera.

Serpong menjadi daerah pertemuan antara Jakarta Barat dan Jakarta Selatan sehingga akan berkembang menjadi kawasan emas baru. (ROBERT ADHI KSP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau