JAKARTA, KOMPAS.com —
Demikian dikemukakan pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, dan pengamat pasar uang, Farial Anwar, yang dihubungi terpisah di Jakarta, Minggu (19/4). ”Setelah harga saham menguat tajam selama sepekan lalu, sepertinya para pedagang jangka pendek akan merealisasikan keuntungan. Hal ini wajar terjadi,” kata Felix.
Menurut dia, tanda-tanda akan terjadinya aksi ambil untung itu sudah tampak pada perdagangan saham, Jumat lalu. Saat itu indeks harga saham gabungan sempat menguat sampai 34 poin, tetapi akhirnya ditutup menguat hanya dengan 9,7 poin. Aksi ambil untung itu menyebabkan hilangnya momentum untuk penguatan yang lebih tinggi.
Dari sisi analisis teknikal, pola seperti itu biasanya mengindikasikan akan terjadi koreksi pada perdagangan hari berikutnya. Namun, sekalipun akan terjadi koreksi, selama sepekan ini Felix memperkirakan indeks harga saham masih berpotensi menguat sekalipun dalam rentang yang terbatas.
Felix mengatakan, penguatan masih akan terjadi karena belakangan ini kondisi perekonomian global juga relatif stabil. Sejumlah lembaga keuangan raksasa di AS, seperti CitiGroup, JP Morgan, dan Goldman Sach, juga telah mengumumkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pasar sekalipun masih jauh lebih buruk dibandingkan periode sebelum krisis.
Laporan membaiknya kinerja dari sejumlah lembaga keuangan AS ini membuat indeks harga saham di New York Stock Exchange mencatat penguatan selama enam pekan berturut-turut sejak mencatat level terendah dalam 12 tahun ini pada awal Maret lalu. Kinerja pertumbuhan di bursa saham New York dalam empat pekan ini merupakan yang terbaik sejak tahun 1933.
Untuk menetapkan keputusan investasi dalam perdagangan saham selama seminggu ini, Felix mengatakan, investor akan mulai mencari informasi baru yang lebih bersifat fundamental. Informasi baru itu dibutuhkan karena apresiasi terhadap pelaksanaan pemilu legislatif dan kondisi makroekonomi global yang belakangan ini relatif stabil sudah terefleksi dalam peningkatan harga saham di bursa selama sepekan lalu.
”Selama tidak ada informasi atau data baru yang terlalu negatif, saham masih berpotensi menguat,” ujar Felix.
Apresiasi pelaku pasar keuangan di Indonesia terhadap pelaksanaan pemilu legislatif yang lancar dan damai serta perekonomian yang relatif stabil telah mengangkat harga saham ke level yang cukup signifikan. Hanya dalam sepekan, IHSG menguat 169,04 poin atau naik 11,53 persen dari level 1.465,75 pada pembukaan perdagangan Senin menjadi 1.634,79 pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
Saham perusahaan yang bergerak pada sektor telekomunikasi, perbankan, otomotif, dan pertambangan menjadi pendorong utama penguatan indeks harga saham di bursa. Saham dari PT Telekomunikasi Indonesia TBK menyumbang 23,154 poin pada indeks, saham PT Bank Sentral Asia Tbk menyumbang 17,297 poin, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menyumbang 9,472 poin pada indeks.
Adapun mengenai nilai tukar mata uang rupiah, Farial memperkirakan masih berpotensi menguat ke level Rp 10.500 per dollar AS. Namun, hal itu sangat bergantung pada aksi para spekulan pasar uang, perkembangan di pasar modal, dan kondisi politik pascapemilihan umum legislatif.
”Kalau para spekulan merasa rupiah sudah cukup tinggi, mereka akan ambil untung. Begitu pula jika spekulan di pasar modal merealisasikan keuntungan dan kemudian mengonversi rupiah yang diperoleh ke dollar AS, nilai rupiah akan kembali tertekan. Karena itu, rupiah perlu dijaga dengan mengupayakan agar arus modal tidak berbalik arah,” katanya.
Stabilitas dan penguatan mata uang rupiah selama sepekan ini, lanjut Farial, juga akan sangat dipengaruhi bagaimana penyelesaian sejumlah persoalan dalam pemilu legislatif. Bila persoalan itu tidak dapat diselesaikan dengan baik sehingga menimbulkan gejolak politik, kepercayaan pasar terhadap mata uang rupiah dipastikan akan anjlok.
Menurut Farial, hal tersebut terjadi karena mata uang rupiah sangat rentan terhadap gejolak politik, berbeda dengan beberapa negara lainnya di Asia, seperti Thailand dan Malaysia. Selain itu, rupiah juga kerap kali dijadikan ”permainan” untuk kepentingan politik sejumlah pihak. Nilai tukar mata uang kita sering dijadikan alat, baik untuk kampanye maupun menyerang lawan politik,” katanya.
Adapun mata uang rupiah menguat ke level Rp 10.690 per dollar AS dari kisaran Rp 11.500 per dollar AS.