Saham dan Rupiah Masih Melaju?

Kompas.com - 20/04/2009, 07:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Indeks harga saham dan nilai tukar rupiah selama seminggu ke depan diperkirakan masih berpotensi menguat. Namun, akumulasi penguatan tidak lagi setinggi pekan lalu karena perdagangan saham dan mata uang rupiah akan diwarnai beberapa aksi ambil untung.

Demikian dikemukakan pengamat pasar modal, Felix Sindhunata, dan pengamat pasar uang, Farial Anwar, yang dihubungi terpisah di Jakarta, Minggu (19/4). ”Setelah harga saham menguat tajam selama sepekan lalu, sepertinya para pedagang jangka pendek akan merealisasikan keuntungan. Hal ini wajar terjadi,” kata Felix.

Menurut dia, tanda-tanda akan terjadinya aksi ambil untung itu sudah tampak pada perdagangan saham, Jumat lalu. Saat itu indeks harga saham gabungan sempat menguat sampai 34 poin, tetapi akhirnya ditutup menguat hanya dengan 9,7 poin. Aksi ambil untung itu menyebabkan hilangnya momentum untuk penguatan yang lebih tinggi.

Dari sisi analisis teknikal, pola seperti itu biasanya mengindikasikan akan terjadi koreksi pada perdagangan hari berikutnya. Namun, sekalipun akan terjadi koreksi, selama sepekan ini Felix memperkirakan indeks harga saham masih berpotensi menguat sekalipun dalam rentang yang terbatas.

Felix mengatakan, penguatan masih akan terjadi karena belakangan ini kondisi perekonomian global juga relatif stabil. Sejumlah lembaga keuangan raksasa di AS, seperti CitiGroup, JP Morgan, dan Goldman Sach, juga telah mengumumkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pasar sekalipun masih jauh lebih buruk dibandingkan periode sebelum krisis.

Laporan membaiknya kinerja dari sejumlah lembaga keuangan AS ini membuat indeks harga saham di New York Stock Exchange mencatat penguatan selama enam pekan berturut-turut sejak mencatat level terendah dalam 12 tahun ini pada awal Maret lalu. Kinerja pertumbuhan di bursa saham New York dalam empat pekan ini merupakan yang terbaik sejak tahun 1933.

Untuk menetapkan keputusan investasi dalam perdagangan saham selama seminggu ini, Felix mengatakan, investor akan mulai mencari informasi baru yang lebih bersifat fundamental. Informasi baru itu dibutuhkan karena apresiasi terhadap pelaksanaan pemilu legislatif dan kondisi makroekonomi global yang belakangan ini relatif stabil sudah terefleksi dalam peningkatan harga saham di bursa selama sepekan lalu.

”Selama tidak ada informasi atau data baru yang terlalu negatif, saham masih berpotensi menguat,” ujar Felix.

Apresiasi pelaku pasar keuangan di Indonesia terhadap pelaksanaan pemilu legislatif yang lancar dan damai serta perekonomian yang relatif stabil telah mengangkat harga saham ke level yang cukup signifikan. Hanya dalam sepekan, IHSG menguat 169,04 poin atau naik 11,53 persen dari level 1.465,75 pada pembukaan perdagangan Senin menjadi 1.634,79 pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

Saham perusahaan yang bergerak pada sektor telekomunikasi, perbankan, otomotif, dan pertambangan menjadi pendorong utama penguatan indeks harga saham di bursa. Saham dari PT Telekomunikasi Indonesia TBK menyumbang 23,154 poin pada indeks, saham PT Bank Sentral Asia Tbk menyumbang 17,297 poin, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk menyumbang 9,472 poin pada indeks.

Rp 10.500 per dollar AS

Adapun mengenai nilai tukar mata uang rupiah, Farial memperkirakan masih berpotensi menguat ke level Rp 10.500 per dollar AS. Namun, hal itu sangat bergantung pada aksi para spekulan pasar uang, perkembangan di pasar modal, dan kondisi politik pascapemilihan umum legislatif.

”Kalau para spekulan merasa rupiah sudah cukup tinggi, mereka akan ambil untung. Begitu pula jika spekulan di pasar modal merealisasikan keuntungan dan kemudian mengonversi rupiah yang diperoleh ke dollar AS, nilai rupiah akan kembali tertekan. Karena itu, rupiah perlu dijaga dengan mengupayakan agar arus modal tidak berbalik arah,” katanya.

Stabilitas dan penguatan mata uang rupiah selama sepekan ini, lanjut Farial, juga akan sangat dipengaruhi bagaimana penyelesaian sejumlah persoalan dalam pemilu legislatif. Bila persoalan itu tidak dapat diselesaikan dengan baik sehingga menimbulkan gejolak politik, kepercayaan pasar terhadap mata uang rupiah dipastikan akan anjlok.

Menurut Farial, hal tersebut terjadi karena mata uang rupiah sangat rentan terhadap gejolak politik, berbeda dengan beberapa negara lainnya di Asia, seperti Thailand dan Malaysia. Selain itu, rupiah juga kerap kali dijadikan ”permainan” untuk kepentingan politik sejumlah pihak. Nilai tukar mata uang kita sering dijadikan alat, baik untuk kampanye maupun menyerang lawan politik,” katanya.

Adapun mata uang rupiah menguat ke level Rp 10.690 per dollar AS dari kisaran Rp 11.500 per dollar AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau