Alat Deteksi Dini Kencing Manis Siap Dipasarkan

Kompas.com - 20/04/2009, 16:28 WIB

MALANG, KOMPAS.com - Munculnya penyakit Diabetes Militus (DM) dapat dideteksi sejak dini lewat kekuatan enzim yang sudah didesain secara sederhana dan terjangkau oleh masyarakat luas.

Guru Besar Bidang Biokimia Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof. Dr. Aulanni’am, mengatakan, dirinya bersama tim dari UB telah melakukan penelitian selama delapan tahun untuk merancang kit deteksi dini untuk pasien Auotoimun DM yang berbasis enzim tersebut.

Pada tahap akhir penelitian, katanya, kit deteksi dini yang dikembangkan dan sudah dikonfirmasikan itu menggunakan gold standar yang telah diproduksi oleh produsen luar negeri.

"Produk alat deteksi dini yang diproduksi luar negeri tersebut harganya cukup mahal yakni 150 dolar AS untuk sekali periksa dan pemeriksaan juga tidak bisa dilakukan sembarangan bahkan di laboratorium yang ada di Indonesia. Hanya laboratorium tertentu saja," tegasnya.

Ia berharap, kit deteksi dini penyakit DM yang dirancang bersama timnya tersebut mampu mengurangi biaya serta mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan terutama pasien diabetes.

Menurut Ketua Komisi etik UB itu, hak paten alat deteksi dini DM tersebut sudah keluar dan dalam waktu dekat akan terus dikembangkan lebih luas. Hanya saja, harga jual alat tersebut masih belum bisa ditentukan.

Selain berguna untuk mendeteksi dini penyakit DM, katanya, enzim dan aplikasinya dalam bidang medis juga sangat mempengaruhi ragam desain obat berdasar pada mekanisme kerja enzim dan afinitasnya dari senyawa biologis dan sekarang banyak dipakai secara luas untuk hipertensi serta stroke.

"Masih banyak kegunaan enzim ini untuk mempermudah hidup manusia. Tidak hanya untuk ilmu-ilmu kimia dan kedokteran saja, tapi juga bisa dikembangkan untuk kepentingan industri pangan," katanya menambahkan.

Saat ini penderita DM stadium IV yang menjalani pengobatan rawat jalan di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang selama kurun waktu 2008 mencapai 3.200 orang dan pasien rata-rata disertai dengan penyakit gagal ginjal.

Total jumlah penderita DM yang menjalani rawat jalan di RSSA, lebih dari lima ribu pasien. Namun yang sampai pada stadium IV dan mengalami gagal ginjal sekitar 3.200 pasien.

Data tersebut diperoleh dari jumlah pasien yang menjalani cuci darah setiap poli penyakit dalam buka, yakni rata-rata 150 sampai 200 orang pasien padahal dalam satu minggu poli tersebut buka empat kali sehingga kalau di rata-rata mencapai 110 pasien setiap hari.

Para penderita penyakit DM rata-rata akan terganggu pengolahan metabolisme bahan makanannya terutama karbohidrat oleh tubuh yang menyebabkan kekurangan insulin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau