Museum Asia Afrika Direvitalisasi

Kompas.com - 21/04/2009, 02:39 WIB

BANDUNG, KOMPAS.COM--Departemen Luar Negeri, mulai tahun 2009 ini, merevitalisasi Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Selain penambahan sarana dan prasarana, esensi revitalisasi ini adalah meningkatkan kualitas pelayanan kunjungan. Ke depan, seluruh bagian Gedung Merdeka, tidak hanya museum, akan dibuka untuk umum, termasuk ruang konferensi. Kepala Museum KAA Isman Pasha di sela-sela Pembukaan Peringatan KAA ke-54, Sabtu (18/4) di Gedung Merdeka, mengatakan, Museum KAA diproyeksikan sebagai pusat pembelajaran sejarah diplomasi dan pendidikan luar negeri Indonesia. Atas pertimbangan ini, perlu ada perubahan konsep pelayanan dan penataan museum ini.

"Kalau dulu, orang berkunjung ke museum hanya ingin lihat lalu pulang. Ke depan, di museum ini, kami menginginkan pengunjung punya pengalaman berharga. Seperti halnya orang mengunjungi Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat," ungkap Isman. Ke depan, perubahan itu menyangkut seluruh kompleks Gedung Merdeka.

"Selama ini, bicara Museum KAA kan taunya hanya sepojok ruang yang disebut ruang pamer tetap. Padahal, yang menyangkut Museum KAA ini adalah seluruh fungsi Gedung Merdeka," tuturnya. Di Museum KAA ini akan disediakan tempat khusus bagi pengunjung agar bisa melakukan simulasi debat dan diplomasi. Setelah direnovasi, pintu masuk utama diubah, yaitu berada di Jalan Cikapundung Timur.

Secara bertahap, di dalam proyek revitalisasi yang diprediksi berlangsung hingga 2012-2013 ini, Museum KAA akan melakukan penambahan koleksi artefak, dokumen, ruang displai, perpustakaan, dan fasilitas publik berupa ruang pertemuan dan kafetaria. Tidak ketinggalan, ruang bawah tanah, yang selama ini mengundang penasaran publik karena tidak boleh diakses, akan direnovasi dan difungsikan kembali. Dana revitalisasi ini, menurut beberapa sumber, diperkirakan mencapai Rp 2 miliar.

Senada dengan upaya lebih membuka diri, peringatan KAA yang dilakukan tahun ini pun dibuat lebih egaliter. "Citra Gedung Merdeka yang elite kini harus diubah. Jika pada tahun-tahun sebelumnya yang hadir adalah pejabat-pejabat negara, pada tahun ini kami berkolaborasi dengan banyak komunitas di Bandung. Kepedulian masyarakat akan museum sangat menentukan," ujarnya. Perubahan citra ini dilandasi keprihatinan akan minimnya masyarakat Kota Bandung yang berkunjung ke sini, yaitu rata-rata hanya 5 persen dari total pengunjung per tahun.

Persoalan pengelolaan

Dalam kesempatan ini, Wakil Gubernur Jabar Dede Yusuf berpendapat, agar ramai dikunjungi, pengelola museum harus mengemas pelayanannya lebih menarik. "Perbanyak aktivitas di sini, misalnya konferensi kecil-kecilan. Biarkan masyarakat luas ikut merasakan suasana sakral saat berdiplomasi," ungkapnya.

Namun, revitalisasi museum ini terhambat soal tarik ulur kewenangan pengelolaan. Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Elias Ginting mengungkapkan, saat ini tidak ada kejelasan status pengelolaan dan pihak yang bertanggung jawab atas Gedung Merdeka dan Museum KAA.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau