Saham di Zona Merah

Kompas.com - 21/04/2009, 10:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan pasar, Selasa (21/4), turun tajam karena pelaku pasar melepas saham-saham unggulan akibat tertekan oleh sentimen negatif regional.
   
Indeks BEI turun 2,15 persen atau 37,332 poin menjadi 1.624,700 dan indeks LQ-45 menjadi 319,484 atau turun 8,426 poin (2,57 persen).

Analis PT Bapindo Bumi Sekuritas, Hary Kurniawan, di Jakarta, Selasa, mengatakan, koreksi harga terhadap saham unggulan dinilai wajar setelah mengalami kenaikan yang cukup berarti. "Namun, saham-saham unggulan akan kembali menguat dalam waktu tidak lama karena sentimen positif pasar masih cukup besar," katanya.
   
Merosotnya perdagangan saham itu, menurut dia, karena sentimen negatif regional akibat melemahnya bursa Wall Street sehingga hampir semua bursa regional cenderung melemah, termasuk Indonesia.

"Meski demikian masih masuknya dana asing dari Timur Tengah yang mendorong jumlah transaksi yang biasanya terjadi hanya sebesar Rp 1 triliun kini mencapai Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun masih memberikan harapan pasar modal kembali membaik," ucapnya.
   
Ia mengatakan, pasar modal Indonesia masih tumbuh berbeda dengan pasar Asia lainnya karena itu investor asing masih berminat untuk menginvestasikan dananya di pasar domestik. "Kami optimis indeks BEI masih dapat tumbuh bahkan bisa mencapai angka 1.700 poin meski dalam waktu agak lama," ucapnya.
   
Selain itu, lanjut dia, laporan kinerja emitan yang cukup baik juga akan mendorong pasar modal tetap diminati investor asing karena mereka menilai gain yang diperoleh di pasar domestik masih lebih tinggi dibanding pasar saham lainnya. "Kami yakin koreksi yang terjadi pada saat ini hanya sementara dan pada perdagangan berikutnya tekanan pasar akan berkurang," ucapnya.
   
Saham-saham unggulan yang terkoreksi antara lain Astra Internasional turun Rp 500 menjadi Rp 15.450 per saham, saham Astra Agro Lestari melemah Rp 250 menjadi Rp 14.800 per saham, saham Telkom melemah Rp 300 menjadi Rp 7.600 per saham, dan saham Indosat turun Rp 150 jadi Rp 5.600 per saham.

Selain itu saham industri perbankan seperti BRI turun Rp 200 jadi Rp 5.100, saham Bank Mandiri dari 2.600 menjadi Rp 2.450 persaham dan saham Bank Danamon turun Rp 125 jadi Rp 2.700 per saham.

Bursa regional berada di zona merah setelah saham-saham AS di Wall Street merosot pada Senin waktu setempat karena kekhawatiran baru terhadap sektor perbankan dan prospek ekonomi secara keseluruhan mendorong para investor mengambil untung dari rally enam pekan terakhir, kata para dealer.
    
Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 289,60 poin, atau 3,56 persen, menjadi ditutup pada 7.841,73. Indeks komposit Nasdaq jatuh 64,86 poin, atau 3,88 persen, menjadi 1.608,21. Indeks Standard & Poor’s 500 menyusut 37,21 poin, atau 4,28 persen, menjadi 832,39 poin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau