JAKARTA, KOMPAS.com — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan pasar, Selasa (21/4), turun tajam karena pelaku pasar melepas saham-saham unggulan akibat tertekan oleh sentimen negatif regional.
Indeks BEI turun 2,15 persen atau 37,332 poin menjadi 1.624,700 dan indeks LQ-45 menjadi 319,484 atau turun 8,426 poin (2,57 persen).
Analis PT Bapindo Bumi Sekuritas, Hary Kurniawan, di Jakarta, Selasa, mengatakan, koreksi harga terhadap saham unggulan dinilai wajar setelah mengalami kenaikan yang cukup berarti. "Namun, saham-saham unggulan akan kembali menguat dalam waktu tidak lama karena sentimen positif pasar masih cukup besar," katanya.
Merosotnya perdagangan saham itu, menurut dia, karena sentimen negatif regional akibat melemahnya bursa Wall Street sehingga hampir semua bursa regional cenderung melemah, termasuk Indonesia.
"Meski demikian masih masuknya dana asing dari Timur Tengah yang mendorong jumlah transaksi yang biasanya terjadi hanya sebesar Rp 1 triliun kini mencapai Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun masih memberikan harapan pasar modal kembali membaik," ucapnya.
Ia mengatakan, pasar modal Indonesia masih tumbuh berbeda dengan pasar Asia lainnya karena itu investor asing masih berminat untuk menginvestasikan dananya di pasar domestik. "Kami optimis indeks BEI masih dapat tumbuh bahkan bisa mencapai angka 1.700 poin meski dalam waktu agak lama," ucapnya.
Selain itu, lanjut dia, laporan kinerja emitan yang cukup baik juga akan mendorong pasar modal tetap diminati investor asing karena mereka menilai gain yang diperoleh di pasar domestik masih lebih tinggi dibanding pasar saham lainnya. "Kami yakin koreksi yang terjadi pada saat ini hanya sementara dan pada perdagangan berikutnya tekanan pasar akan berkurang," ucapnya.
Saham-saham unggulan yang terkoreksi antara lain Astra Internasional turun Rp 500 menjadi Rp 15.450 per saham, saham Astra Agro Lestari melemah Rp 250 menjadi Rp 14.800 per saham, saham Telkom melemah Rp 300 menjadi Rp 7.600 per saham, dan saham Indosat turun Rp 150 jadi Rp 5.600 per saham.
Selain itu saham industri perbankan seperti BRI turun Rp 200 jadi Rp 5.100, saham Bank Mandiri dari 2.600 menjadi Rp 2.450 persaham dan saham Bank Danamon turun Rp 125 jadi Rp 2.700 per saham.
Bursa regional berada di zona merah setelah saham-saham AS di Wall Street merosot pada Senin waktu setempat karena kekhawatiran baru terhadap sektor perbankan dan prospek ekonomi secara keseluruhan mendorong para investor mengambil untung dari rally enam pekan terakhir, kata para dealer.
Indeks Dow Jones Industrial Average melorot 289,60 poin, atau 3,56 persen, menjadi ditutup pada 7.841,73. Indeks komposit Nasdaq jatuh 64,86 poin, atau 3,88 persen, menjadi 1.608,21. Indeks Standard & Poor’s 500 menyusut 37,21 poin, atau 4,28 persen, menjadi 832,39 poin.