Cawapres PDI-P Harus Punya "Gerbong"

Kompas.com - 21/04/2009, 14:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski mensyaratkan penyelesaian karut-marut pemilu legislatif sebagai faktor pengajuan calon presiden, PDI Perjuangan tetap akan membahas calon wakil presiden yang akan mendampingi capres PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Siapa yang bakal diusung partai ini untuk mendampingi Megawati? Sampai sekarang belum jelas benar apakah Sultan HB X, Prabowo, Akbar Tanjung, atau Wiranto. 

Ketua Bappilu yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mengatakan, syarat yang diajukan bagi pendamping Mega adalah mempunyai "gerbong" alias basis dukungan yang kuat. 

"Sultan? Ya belum tahu. Kita lihat Sultan pakai kendaraan apa. Untuk cawapres, ketokohan harus ada, punya parpol yang punya suara dan pendukung yang banyak sehingga ketika didampingkan dengan Ibu Mega bisa menambah suara," ungkap Tjahjo, Selasa (21/4) di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. 

Seluruh kandidat yang sering disebut, menurutnya, masing-masing mempunyai kapasitas. "Tokoh-tokoh ini setidaknya punya dukungan internal partainya," kata Tjahjo. 

Saat ditanya apakah cawapres Mega akan diputuskan pada Rakernas PDI Perjuangan 25 April mendatang, Tjahjo belum memastikan. Ia hanya mengatakan, beberapa kemungkinan opsi, di antaranya keputusan cawapres diserahkan kepada DPP atau daerah diminta untuk kembali mengajukan sejumlah nama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau