Buloggate Ganjal Akbar Menuju Pilpres

Kompas.com - 21/04/2009, 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung diperkirakan tergelincir menuju pertarungan Pemilu Presiden 2009 akibat keterlibatannya pada skandal Buloggate pada tahun 2003.

Tokoh senior Golkar ini bahkan pernah divonis hukuman tiga tahun penjara walaupun pada bulan Februari 2004 Mahkamah Agung kemudian membebaskannya melalui putusan kasasi. "SBY kemungkinan tidak bersama Akbar Tanjung. Dia punya cacat karena kasus Bulog. Pencalonan Akbar sebagai pendamping SBY juga akan merusak citra pemberantasan korupsi pemerintahan SBY," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit, Selasa (21/4) sore.

Padahal, keberhasilan pemerintahan SBY dalam pemberantasan korupsi menjadi salah satu tema yang diusung Partai Demokrat pada Pemilu Legislatif lalu.

Arbi juga menilai Akbar tidak memiliki integritas dan kapabilitas. Terlebih, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut diperkirakan lebih membutuhkan pendamping yang ahli di bidang ekonomi. Sebelumnya, nama Akbar disebut-sebut menguat sebagai calon wakil presiden di partai pohon beringin tersebut.

Selain dinilai memiliki pengalaman yang mengakar di parpol bernomor urut 23, Akbar juga dinilai berhasil membawa Golkar menjadi jawara pada Pemilu 2004.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau