Angie ke Putaran Kedua OkeShop Open

Kompas.com - 21/04/2009, 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Angelique "Angie" Widjaja melaju ke babak kedua turnamen OkeShop Open. Mantan petenis nomor satu Indonesia yang menjadi unggulan kelima turnamen ini lolos setelah menang 6-2 6-2 atas Aldila Sudtjiadi, Selasa (21/4).

Setelah menutup set pertama dengan kemenangan 6-2, permainan Angie sempat mengendur saat ia dua kali tertinggal pada awal set kedua yang harus melalui beberapa kali deuce tersebut. Tetapi setelah mematahkan servis lawannya pada game kelima untuk membuat kedudukan 3-2, petenis yang menjuarai Wismilak Internasional 2001 itu melaju untuk memenangi pertandingan.

Angie mengaku, panas yang luar biasa ditambah kurangnya latihan membuat ia cepat lelah. "Kulit saya juga pedih semua," katanya.

Soal pertandingan tanpa wasit, Angie yang juga penggagas turnamen tersebut mengatakan, dirinya teringat kembali masa-masa junior dulu. Pasalnya, waktu itu dia sering bertanding tanpa wasit.

Di babak selanjutnya, Angie akan menghadapi Maya Rosa yang menyisihkan Prima Lestari 6-2 6-3.

Pada sektor putra, Ivan Regan Krijanto mengalahkan Louis Theodor 6-2 6-2. Tetapi di babak kedua nanti, Ivan bakal menghadapi tembok kokoh karena bertemu unggulan pertama Elbert Sie.

Sementara itu, Setyo Dwi Adrianto menyisihkan Prisca Titan 6-1 6-1 untuk selanjutnya bertemu unggulan kedua Sunu Wahyu Trijati. Adapun Febi Widhiyanto memenangi tiebreak 7/4 pada set kedua untuk mengalahkan Limpad Nurahmad 6-2 7-6 dan bertemu unggulan keenam Sebastian Dacosta.

Pada turnamen ini, seluruh unggulan tunggal putra mendapat bye sehingga mereka langsung maju ke babak kedua.

Tanpa wasit

Turnamen OkeShop Open yang merupakan seri pertama dari lima seri Garuda Indonesia Tennis Series, tak memakai wasit. Sang pengadil pertandingan baru akan dipakai mulai babak perempat final.

"Ada klausul dari ITF yang memungkinan pertandingan tanpa wasit jika kurang sumber daya manusia (SDM) atau karena keterbatasan dana. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan pertandingan, daripada turnamen tidak terselenggara," ujar referee turnamen Akhyar Matra di sela-sela pertandingan yang digelar di Lapangan Tenis Klub Rasuna, Jakarta.

Akhyar mengatakan, PB Pelti sebagai institusi tenis tertinggi di Tanah Air telah mengizinkan penyelenggara turnamen tersebut menggelar pertandingan tanpa wasit karena alasan keterbatasan dana.

Namun ia mengakui bahwa pertandingan tanpa wasit dapat menurunkan kualitas turnamen. Karena, pada kenyataannya banyak peraturan-peraturan yang dilanggar pemain, misalnya lamanya waktu istirahat saat pertukaran lapangan atau keharusan pemain meneriakkan poin saat akan melakukan servis yang hampir tidak pernah dilakukan.

"Jadi kalau ada yang bilang bahwa pertandingan tanpa wasit akan meningkatkan sportivitas, itu belum terbukti. Justru membuka banyak peluang melakukan pelanggaran," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau