Tanri Abeng: Jaga Keutuhan Golkar

Kompas.com - 21/04/2009, 18:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Upaya berduet dengan Partai Demokrat membuat sejumlah kader Partai Golkar terbelah. Sosok Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Partai Golkar dan Akbar Tandjung yang sempat memimpin partai berlambang Pohon Beringin mau tak mau bersitegang untuk merebutkan posisi nomor dua di kursi pemerintahan. Padahal, dua kubu ini mempunyai pendukung yang tak kalah sedikit di tingkat kepengurusan Partai Golkar.

Tak ingin hancur berkeping, anggota Dewan Penasihat Tanri Abeng mengingatkan untuk terus menjaga keutuhan Partai Golkar. "Kalau wanhat itu selalu menjaga persatuan dan kesatuan, keutuhan di Golkar. Jangan pecah baru mau utuh, tapi selalu harus utuh," kata Tanri Abeng seusai bertemu Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (21/4).

Selain berbicara dengan Tanri Abeng, Kalla juga mengundang Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin, Limpo, Ketua DPP Andi Mattalatta, Ketua DPP Muladi, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, dan Ketua Dewan Penasihat Golkar Surya Paloh.

"Tidak ada hal penting yang dibicarakan karena kita ngobrol macam-macam," kata Tanri.

Menurut Tanri Abeng, Golkar berencana menggelar pertemuan di DPP Partai Golkar, Selasa (21/4), terkait isu terakhir koalisi. "Nanti malam akan ada pertemuan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau