Gerakan Penanganan Pascapanen di Lamongan

Kompas.com - 21/04/2009, 20:10 WIB

LAMONGAN, KOMPAS.com - Tahun ini, lahan pertanian seluas 122,79 hektar di Kabupaten Lamongan menjadi sasaran program Gerakan Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Gabah/Beras. Tahun ini ditetapkan ada 13 kabupaten di tujuh provinsi se-Indonesia yang menjadi sas aran program tersebut dan luas lahan di Lamongan yang jadi sasaran paling luas dibanding 13 kabupaten lainnya.

Ketua Tim Gerakan Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran Gabah/Beras (GP4GB) Pusat Agustin Zetkarnain pada pemaantauan dan supervisi program GP4B di Lamongan Selasa (21/4) menyebutkan program GP4GB tahun ini dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Jawa Timur diwakili Kabupaten Jombang dan Lamongan.

Luasan lahan sasaran program GP4GB di Lamongan 122,79 hektar termasuk lahan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL PTT) dan lahan yang non SL PTT. Areal lahan yang masuk SL PTT seluas 7 hektar sementara yang masuk areal non SL PTT seluas 115,799 hektar.

"Jika Lamongan sasarannya paling luas maka sasaran terkecil berada di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan seluas 16,5 hektar," kata Agustin yang juga Direktur Penanganan Pasca Panen pada Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Departe men Pertanian RI.

Menurut Agustin tujuan dari program GP4GB untuk menurunkan tingkat susut produksi (losses) pertanian akibat proses penanganan pasca produksi yang tidak memadai. Program itu juga bertujuan meningkatkan mutu gabah/beras petani serta terjaminnya harga gabah /beras minimal sama dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).  

"Untuk mewujudkan tujuan itu, dilakukan pantauan dan supervisi. Bahkan tahun lalu tidak diberikan 30.000 bantuan terpal plastik untuk pasca panen ke lokasi sasaran program," katanya.

Agustin menyebutkan secara nasional, losses produksi pertanian menurun dari sebesar 20,51 persen pada periode tahun 1995/1996 menjadi 10,82 persen di tahun 2008. Di lokasi GP4GB, losses produksi pertanian turun menjadi sekitar 9,1 persen di tahun 2008 di banding periode tahun 1995/1996.

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Kabupaten Lamongan Djoko Purwanto menyatakan sektor pertanian masih menjadi sektor unggulan di Kabupaten Lamongan. Pada tahun 2008 sektor pertanian memberi kontribusi sebesar 41,05 persen untuk Produk Domestik Regional B ruto(PDRB) Lamongan.

"Sebanyak 55,73 persen penduduk Lamongan bekerja di sektor pertanian. Pemkab Lamongan telah membenahi infrastruktur pertanian. Termasuk sarana irigasi dan waduk-waduk," katanya.

Djoko yang juga mantan Kepala Dinas Pertanian Lamongan menyebutkan hingga akhir tahun 2008, Kabupaten Lamongan surplus 678.918 ton gabah kering giling. Dia menyebutkan sampai dengan akhir tahun 2008 dari sasaran luas tanam yang ditetapkan 127.203 hektar, luas panen sebesar 123.792 hektar.

Dengan luasan tersebut sanggup memproduksi padi sebesar 746.252 ton gabah kering giling (GKG) dengan produktivitas rata-rata 60,28 kuintal GKG per hektar. Djoko merinci, sampai akhir Juli 2008 realisasi tanam telah mencapai 136.936 hektar atau 107,65 persen, realisasi panen mencapai 106.968 ton atau 86,41 persen. Realisasi produksi 698.036 ton atau 93,55 persen dan realisasi produktivitas mencapai 65,26 kuintal per hektar atau 108,26 persen, katanya.

Dia menambahkan, sisa tanaman padi pada musim kering I dan musim kering II yang belum dipanen seluas 27.205 hektar dengan produksi 174.175 ton diperkirakan surplus gabah 678.918 ton gabah kering giling.

Bupati Lamongan Masfuk menyatakan, dengan surplus 670.000 ton GKG semakin mengukuhkan Lamongan sebagai penyangga cadangan beras nasional. Pemerintah pusar mencanangkan surplus sebesar 2 juta ton lebih dari seperempatnya dipenuhi Lamongan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau