Golkar Mungkin Pilih Kalla Jadi Capres

Kompas.com - 22/04/2009, 08:14 WIB

Jakarta, KOMPAS.com - Upaya Partai Golkar dan Partai Demokrat untuk mencapai titik temu belum berhasil meski Susilo Bambang Yudhoyono kemarin telah melontarkan lagi sinyal tentang koalisi kedua parpol. Bila tetap buntu, Partai Golkar akan mengajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden dalam pemilu presiden mendatang.

Sepanjang Selasa (21/4) terjadi pertemuan yang intensif antara tim Partai Golkar dan tim Partai Demokrat.

Puncaknya adalah pertemuan pada malam hari antara Tim Tiga Partai Golkar dan Tim Tiga Partai Demokrat di sebuah hotel di Jakarta. Tim Golkar terdiri dari Gubernur Lemhannas Muladi, Ketua DPP Partai Golkar Andi Mattalatta, dan Sekretaris Jenderal Soemarsono; sementara Demokrat terdiri dari Ketua Umum DPP Hadi Utomo, Ketua DPP Anas Urbaningrum, serta Sekjen Marzuki Alie.

Jika pembicaraan Tim Tiga tetap buntu, Golkar mungkin akan mengajukan Kalla sebagai capres. ”Ya, bisa saja (capres) dan ada kemungkinan. Kalau tidak Selasa malam ini, ya Rabu besok pagi (diumumkan capresnya),” ujar Wakil Sekjen DPP Partai Golkar Iskandar Manji, menjawab pers.

Menurut sumber Kompas, dalam pertemuan Tim Tiga, pihak Demokrat tetap berkeras agar Golkar mengajukan lebih dari satu nama calon wapres, sedangkan Golkar hanya ingin satu nama. Rencananya, Rabu pagi ini, DPP Golkar akan memutuskan apakah pembicaraan dengan pihak Demokrat akan dilanjutkan.

Cawapres belum ada

Dalam jumpa pers Selasa siang, Yudhoyono mengemukakan, pertemuannya dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla di Kantor Presiden merupakan bagian dari penjajakan dan pembicaraan koalisi. Ada kehendak baik Demokrat dan Golkar untuk berkoalisi. ”Berkaitan dengan pertemuan saya dengan Pak Kalla (Senin, 20/4), isunya memang ke sana kemari. Yang jelas, pertemuan itu bagian dari penjajakan dan pembicaraan untuk membangun koalisi dan pembicaraan lanjutan. Pada tingkat sekarang, ada kehendak baik dari Demokrat dan Golkar berada dalam koalisi bersama-sama parpol lain,” ujarnya.

Koalisi yang dibicarakan terkait dengan kebersamaan di pemerintahan atau kabinet dan di parlemen. Di luar itu, tim partai masing-masing juga melakukan pembicaraan yang kemudian berujung pada rapat pimpinan atau musyawarah nasional. Sampai sekarang, kata Yudhoyono, penjajakan koalisi Demokrat dengan Golkar dan partai lain masih terus terjadi.

”Sama sekali pada tingkat saya belum membicarakan nama, siapa cawapres yang, insya Allah, akan saya ajak mendampingi saya,” kata Yudhoyono.

Akbar menguat

Kemarin sejumlah mantan pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia, yang sekarang ini banyak tersebar di banyak partai, menyatakan dukungannya kepada Akbar Tandjung untuk mendampingi Yudhoyono.

Mereka juga meminta agar Rapimnas Khusus Golkar yang akan diselenggarakan 23 April besok merekomendasikan banyak nama calon wapres, bukan hanya satu nama, yaitu Jusuf Kalla.

Tokoh yang hadir antara lain Ruhut Sitompul (Ketua DPP Partai Demokrat yang juga anggota Tim Sembilan yang dibentuk Yudhoyono untuk mencari cawapres), Lucky Sastrawirya, (Wakil Ketua Bidang Politik Partai Demokrat DKI Jakarta), Muchsin Ridjan (Wakil Ketua Umum DPP Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong), Agus Zakaria (Sekjen Pemuda Panca Marga, Wakil Ketua Partai Golkar DKI), Ariadi Ahmad (Wakil Sekjen DPP Partai Golkar), Uncu Natzir (Tim Media Akbar), dan Ketua KNPI DKI Jakarta Arif Rahman.

Akbar yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik adanya pemberian dukungan itu. Ia juga menegaskan kembali kesiapannya untuk menjadi cawapres mendampingi Yudhoyono apabila memang dipilih. ”Kalau saya nanti yang dipilih Pak SBY, sejak sekarang saya mengatakan kesiapan saya untuk memberikan dukungan dan dalam memberikan dukungan kepada beliau, saya memosisikan diri sebagai wakil presiden, sebagaimana diamanatkan konstitusi, UUD 1945, wakil presiden itu bertugas berfungsi dalam rangka membantu tugas presiden agar misi presiden berjalan sukses. Tidak ada agenda-agenda lain,” ujarnya.

Menurut Ruhut, Akbar figur yang tepat menjadi cawapres mendampingi SBY karena ia figur politikus yang memiliki sikap negarawan, rendah hati, santun, dan jujur.

Lucky menduga kalau Rapimsus Partai Golkar mengajukan daftar nama dan Akbar masuk di dalamnya, Akbar yang paling besar kemungkinannya untuk dipilih menjadi cawapres mendampingi Yudhoyono.

Pandangan PKS

Partai Keadilan Sejahtera sudah menyampaikan pandangannya soal koalisi dalam pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhoyono maupun Tim Sembilan Partai Demokrat.

Sekalipun demikian, menurut Ketua Bidang Perencanaan PKS Mahfudz Siddiq, PKS tidak dalam kapasitas mengajukan nama kepada Yudhoyono. Keputusan akhir menyangkut cawapres diserahkan kepada Yudhoyono. Kepentingan PKS dalam membangun koalisi adalah memperkuat sistem presidensialisme dan membangun pemerintahan yang efektif. “Siapa orangnya itu, hanya SBY dan Tuhan yang tahu,” ujar Mahfudz.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar juga mengakui pihaknya sudah bertemu dengan tim Partai Demokrat. Seluruh pandangan dan syarat yang diminta PKB sudah disampaikan dalam forum tersebut. Muhaimin menilai, kriteria calon wapres yang disebutkan Yudhoyono masih umum. “SBY pasti bisa menentukan sendiri calon yang dianggap paling tepat,” katanya.

Secara terpisah, Sekjen Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan menegaskan, tidak ada perpecahan di tubuh PAN terkait koalisi maupun pencalonan untuk pilpres. Pertemuan di Yogyakarta yang diinisiasi Amien Rais merupakan salah satu masukan menjelang penetapan sikap PAN pada 27 April nanti. Terkait kriteria calon wapres yang disebutkan Yudhoyono, Zulkifli menilai banyak kader PAN yang bisa memenuhi itu. “Tapi PAN tidak mau menyorong-nyorongkan muka,” katanya.   (HAR/INU/DIK/SUT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau