Apartemen Hitam-Putih

Kompas.com - 22/04/2009, 15:18 WIB

KOMPAS.com - Rio cukup kecewa ketika melihat unit apartemen yang dibelinya, ternyata sangat standar. Mungkin itulah konsekuensi dari membeli “barang” sale. Tapi kepiawaiannya mendesain ruangan bisa menyulap ruang standar itu jadi lebih indah dan bernilai.

Sale unit apartemen Taman Anggrek kira-kira setahun lalu mendorong Rio Chrisdian (35) dan istrinya, Yennie (30) untuk membelinya. Tapi seperti banyak yang dilakukan pengembang apartemen saat ini, apartemen dijual dalam keadaan unfinished. Di unit tersebut belum ada plafon, belum ada lampu (cuma ada kabel di tiap titik lampu), lantai ditutup keramik standar ukuran 20 cm x 20 cm, dan kabinet dapur disediakan ala kadarnya.

Rio, arsitek lulusan UKI Jakarta yang sekarang memiliki kantor konsultan arsitektur dan desain interior bernama Idea, gerah juga melihat kondisi unit yang sangat minim ini. Karena itu ia memutuskan untuk memolesnya habis-habisan.

Pertama-tama, Rio menentukan tema warna yaitu hitam dan putih. Mengapa warna ini yang dipilih? Menurut Rio, hitam dan putih melambangkan simplicity, yang mengandung makna kesederhanaan. Nilai ini pulalah yang dianut Rio dalam menjalani hidup. “Saya memang senang yang taktis, nggak seneng ribet,” ujarnya ketika kami mengobrol di ruang keluarganya yang kecil tapi nyaman, sambil menunggu proses pemotretan.

Selain mengandung nilai kesederhanaan, hitam dan putih juga sederhana dalam makna visual. Ruang yang tidak terlalu luas cocok bila diberi tema warna monokrom seperti ini. Andaikan diberi banyak warna, ruang mungkin akan terlihat “penuh”, terasa lebih sempit, dan kurang menenangkan.

Hitam dan putih diterapkan oleh Rio di hampir setiap bagian. Sofa, kursi makan, pintu, kusen, wood blind, semua menggunakan warna hitam. Dinding dan plafon dibiarkan putih. beberapa perabot dibuat berwarna putih atau kombinasi putih dan hitam. Untuk memberikan kesan hangat, Rio memilih parket bambu yang berwarna kuning muda sebagai ganti granit. Bambu dipilih karena teksturnya yang unik dan warnanya yang cenderung terang, sehingga masih cocok dengan tema hitam-putih.

Ketika ia membawa kami ke dapurnya, kami spontan berseru, “wah, dapurnya juga hitam dan putih?” Rio menimpali sambil tertawa, “keterlaluan ya?”

Aksen Tetap Perlu
Sekalipun berpegang pada kesederhanaan dan warna monokrom, aksen tetap dibutuhkan. Aksen akan membuat ruang yang minim warna dan ornamen menjadi tidak membosankan. Di sini Rio menggunakan kursi malas warna merah sebagai aksen di ruang keluarga. Pada dinding di belakang TV, Rio juga meletakkan panel plywood ebony dengan garis-garis horizontal warna putih.

Agar terlihat menyatu dengan panel dinding ini, pada plafon diberi kisi-kisi kayu yang dicat warna hitam, dengan lebar sama persis dengan panel tadi. Dengan demikian terlihat ada 2 bidang (plafon dan dinding) berpelapis kayu, yang menaungi area duduk di ruang keluarga. Bentuk seperti ini memberikan keintiman dan kehangatan di ruang keluarga ini. Dan hebatnya, di balik kisi-kisi kayu pada plafon tadi ada balok struktur yang kalau terlihat, memang kurang indah.

Minimalis, Modern, Tropis
Bila ditanya gaya apa yang diterapkan, Rio menjawab, ada tiga gaya yang diadopsi untuk tempat tinggalnya ini, yaitu minimalis, modern, dan tropis. Minimalis ditunjukkan dalam konsep “bentuk mengikuti fungsi”. Jadi benda-benda yang ada di sini dipikirkan betul-betul fungsinya. Meja TV, misalnya, dibuat agar benar-benar sesuai dengan benda-benda yang ingin diletakkan di atasnya dan di dalam laci-lacinya.

Tapi gaya minimalis murni menurut Rio terlalu “dingin”. Karena itu ia menggunakan beberapa campuran material yang bergaya modern seperti kaca untuk meja makan dan coffee table, stainless steel untuk kaki-kaki meja dan handle laci/lemari, dan aksen kursi malas warna merah.

Lalu, di mana unsur tropis diterapkan? Rio mengadopsinya dalam bentuk penggunaan material alami. Dinding ruang makan, misalnya, ditempeli batu andesit rata bakar yang dibentuk susun sirih. Mengapa Rio memilih batu andesit? Tidak lain karena warnanya yang abu-abu, mendekati hitam. Selain itu, Rio juga bermain-main dengan material kayu pada penutup jendela (wood blind), kisi-kisi pada plafon dan panel pada dinding.

Selain memainkan warna, material, dan perabot, Rio juga menggeser beberapa dinding agar ruang apartemen ini lebih nyaman untuknya. Di dinding dekat pintu kamar tidur utama, misalnya, dibuat lemari tanam untuk lemari obat dan lemari penyimpanan sepatu. Satu lagi, sebagian dinding di belakang TV juga digeser sehingga di kamar tidur utama terdapat ceruk kecil yang pas bila digunakan untuk tempat rias.

Ya, tinggal di unit apartemen atau di rumah berukuran mungil, kita memang harus pintar-pintar menata. Kalau tepat, tempat tinggal pun akan terasa nyaman.
(dek/Tabloid Rumah)

LOKASI: KEDIAMAN RIO CHRISDIAN DAN YENNIE, APARTEMEN TAMAN ANGGREK

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau