Tiga Guru Besar Lagi dari ITS Surabaya

Kompas.com - 23/04/2009, 00:23 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kini menambah tiga guru besar yakni Prof. Dr. Ir. Budisantosa Wirjodirdjo ME., Prof. Ir. Eko Budi Djatmiko M.Sc., dan Prof. Dr. drs. I. Nyoman Budiantara M.Si., yang dikukuhkan pada 25 April mendatang.
    
"Meski bergelut di bidang yang berbeda, keilmuan kami saling terkait. Saya mempelajari hidrodinamika dan pengaruhnya termasuk salah satunya terhadap produk industri, Pak Budi tentang industrinya itu sendiri, dan penyelesaiannya menggunakan metode statistika oleh Pak Nyoman," kata Eko yang juga Pembantu Rektor IV ITS itu, Rabu.
    
Bidang keilmuan Budisantosa adalah bidang teknik industri, sedang Eko di bidang hidrodinamika kelautan, dan Nyoman di bidang ilmu statistika matematika.
    
Menurut Eko yang kelahiran Magelang pada 26 Desember 1958 itu, bidang ilmu yang didalaminya itu berkaitan erat dengan permasalahan dinamika air laut, mulai dari arus, pasang surut, gelombang, sampai pergerakan massa air dalam volume besar dari satu lautan ke lautan yang lain.
    
"Indonesia itu termasuk jalur perlintasan arus, bahkan ada fenomena Indonesian through flow, yaitu pergerakan air laut dari Pasifik ke lautan Hindia," kata profesor ’laut’ yang suami dari pelukis kenamaan, Nataliniwidhiasi.
    
Ilmu hidrodinamika ini diperlukan untuk melihat dan memperhitungkan dampak pergerakan air laut ini terhadap produk-produk rekayasa, seperti kapal, anjungan migas, bangunan pelabuhan, dan bangunan penahan gelombang. "Banyak kecelakaan kapal yang salah satunya juga terjadi akibat dinamika air laut. Apalagi, saat ini sangat susah diprediksikan secara tepat fenomena alam yang akan terjadi. BMG selama ini hanya memberi warning (peringatan) jangan melaut ada gelombang tinggi 4-6 meter selama 4 hari, tapi apakah itu tepat," kata dosen di jurusan Teknik Kelautan itu.
    
Sementara itu, Nyoman membuat piranti lunak metode statistika yang diberi nama "Spline Polinomial Truncated" yang dapat mendukung ilmu hidrodinamika.
    
Pria kelahiran Gianyar pada 3 Juni 1965 itu mengatakan perhitungan statistik menggunakan "spline" itu memang memiliki keunggulan dibandingkan metode statistik yang lain. "Spline dapat digunakan memperkirakan kejadian-kejadian abnormal. Beberapa tahun lalu, kita masih dapat dengan mudah memprediksi kapan musim hujan dan musim kemarau tiba dengan metode statistik biasa, tapi perkiraan itu sudah tidak bisa diterapkan lagi," katanya.
    
Persoalan impor beras hingga penetapan parameter sehat balita dalam kartu KMS (Kartu Menuju Sehat) pun dapat diatasi dengan menggunakan metode itu. "Anak Indonesia rata-rata di bawah parameter sehat yang ada pada KMS, padahal si anak ini sehat. Itu terjadi karena data yang digunakan membuat parameter sehat dalam kartu  adalah data balita Amerika. Dari posturnya saja jelas beda dengan anak Indonesia. Ini jawabannya mengapa balita Indonesia kebanyakan berada di bawah parameter sehat," katanya.
    
Metode Statistika itu juga dapat digunakan menyelesaikan problem industri seperti yang dikemukakan oleh Budisantosa. "Salah satu titik lemah sektor industri di Indonesia karena tidak adanya industri. Yang ada di Indonesia bukan industri, tapi pabrik. Kalau industri itu meningkatkan nilai tambah, seperti Starbucks dan kopi," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau