Melahirkan, Nur Azizah Tetap Selesaikan UN

Kompas.com - 23/04/2009, 18:27 WIB

GRESIK, KOMPAS.com — Di Surabaya, siswi hamil saja tidak diizinkan mengikuti ujian nasional. Namun, di Gresik, seorang siswi yang bahkan melahirkan di hari-hari penyelenggaraan UN pun masih diizinkan mengikuti UN sampai selesai.

Adalah Nur Azizah (18), siswi kelas XII IPA SMA Hidayatus Salam Dukun. Ia melahirkan pada hari Selasa (21/4), atau hari kedua penyelenggaraan UN tingkat SLTA. Ia melahirkan bayi laki-laki seberat 2,8 kg.

Meski demikian, Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik tetap mengizinkan Nur menyelesaikan ujian hingga hari Jumat besok, untuk mata pelajaran Kimia.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Chusaini Mustaz, Kamis (23/4), mengaku terkejut dengan informasi tentang adanya peserta ujian yang tengah hamil, bahkan sampai melahirkan. Dia mengaku baru mendapat informasi Kamis pagi tadi. Pihak sekolah pun tidak melapor, dan bisa menyelesaikan sendiri.

"Dalam hal ini kami mengambil sikap dari sisi pertimbangan kemanusiaan. Dia perlu diberi kesempatan sampai ujian selesai, apalagi dia semangat untuk lulus. Habis melahirkan saja masih mau ikut ujian," kata Mustaz.

Menurut dia, dalam dokumen peraturan juga tidak disebutkan rinci bahwa siswa hamil tidak boleh ikut ujian, apalagi secara adminsitratif siswa tersebut dalam daftar nominasi tetap (DNT) peserta UN.

"Tidak ada juklak dan aturan menyangkut pembatalan bila siswa sudah masuk DNT. Kami pendidik bukan polisi atau aparat hukum yang kaku melihat persoalan. Dalam memberi sanksi kami harus melihat latar belakangnya. Jadi, dengan pertimbangan kemanusiaan, Azizah diizinkan ikut UN sampai selesai," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya norma susila dan norma sosial masyarakat yang tidak tertulis. "Secara tertulis memang tidak ada larangan peserta hamil atau berkeluarga mengikuti UN. Namun, berdasarkan norma ada batasan siswa adalah anak didik yang belum berkeluarga sehingga secara etika tidak diperkenankan. Kebijakan memberi toleransi bagi Nur Azizah tetap mengikuti UN agar mendapatkan ijazah jika lulus dengan alasan kemanusiaan, apalagi perjuangannya luar biasa, baru melahirkan saja masih mau ikut UN," kata Mustaz.

Sudah menikah

Nur Azizah adalah warga Desa Lowayu, Kecamatan Dukun. Dia menikah sejak 2008 dengan Sucipto (20). Meski begitu, dia tetap melanjutkan sekolahnya.

Saat berangkat sekolah untuk mengikuti UN hari kedua, Selasa lalu, sekitar pukul 06.30, ia sebenarnya sudah merasa bahwa perutnya mulas. Meski demikian, ia tetap berangkat.

Seusai ujian, perutnya semakin terasa mulas. Dia lalu melapor ke sekolah dan dijemput suaminya. Selanjutnya, dia diantarkan ke Puskesmas Pembantu Lowayu. Anaknya pun lahir sekitar pukul 13.30.

Menurut Kepala SMA Hidayatus Salam Dukun Pardi, siswa itu diketahui sudah menikah dan mengandung saat pengambilan foto tanda peserta UN serta kelengkapan administrasi ijazah. Peserta UN di sekolah tersebut mencapai 48 orang terdiri dari 28 siswa program IPS serta 20 orang program IPA.  

Nur Azizah tercatat sebagai peserta UN untuk jurusan IPA. "Kami tidak melarang dia ikut UN karena yang bersangkutan memenuhi persyaratan administrasi. Kami mengizinkan dengan alasan kemanusiaan meskipun kondisinya hamil," katanya.

Kerabat Azizah bernama Siti menyatakan, Azizah melahirkan Selasa pukul 13.30. Setelah mengikuti UN, Azizah pulang dibawa ke Polindes dan melahirkan anak laki-laki dengan berat badan 2,8 kg. Meskipun baru melahirkan, Azizah yang lahir pada 11 November 1990 itu bertekad mengikuti UN sampai tuntas.

Dia tetap mengikuti UN pada Rabu dan Kamis (23/4) dengan diantarkan suaminya. Azizah khawatir, bila kasusnya muncul di media, hal itu berdampak tidak bisa melanjutkan UN. Padahal, setelah lulus dia ingin bekerja membantu ekonomi keluarga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau