Waduh, Ledakan Penganggur Muda Mengancam

Kompas.com - 24/04/2009, 07:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ledakan penganggur berusia muda kini mengancam seluruh dunia. Dari 190,2 juta penganggur di dunia, 75,9 juta di antaranya berusia 15-24 tahun.

Mereka sebagian besar berada di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pemerintah Indonesia harus memprioritaskan kebijakan yang berorientasi mengurangi penganggur.

Sinkronisasi dunia pendidikan dengan dunia kerja dan dukungan penuh industri kreatif tak bisa diabaikan. Para pengambil keputusan harus bertindak cepat supaya Indonesia tidak kebanjiran penganggur berusia muda.

Demikian isu yang mengemuka dalam konferensi angkatan kerja muda yang diselenggarakan Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Jakarta, Kamis (23/4).

Pada acara itu juga diluncurkan Jejaring Angkatan Kerja Muda Indonesia (Indonesia Youth Employment Network/IYEN).

Koordinator Sekretariat Bersama IYEN Komara Djaya mengungkapkan, pemerintah kini memprioritaskan pendidikan kejuruan untuk menghasilkan tenaga terampil dan terdidik.

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah bekerja sama dengan Kadin untuk program pelatihan, sertifikasi, dan penempatan kerja lulusan pendidikan formal.

Manajer Pelatihan Thiess Contractor Seskoadi mengungkapkan, pemda juga harus lebih berperan mendorong pendidikan kejuruan berbasis potensi lokal yang mampu bersaing di pasar kerja internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau