Ucapan Mama Laurent Hebohkan Warga Jepara

Kompas.com - 24/04/2009, 19:10 WIB

JEPARA, KOMPAS.com - Ucapan Mama Laurent ketika diwawancarai salah satu stasiun TV swasta yang menyatakan, Seekor kura raksasa di salah kota di Jawa Tengah minta dimandiin membuat heboh warga Jepara.

Kepala Humas Pemkab Jepara, Hadipriyanto, Jumat (24/4) membenarkan terjadinya kehebohan tersebut. Terutama menyangkut warga kota Jepara yang berpenduduk lebih dari 100.000 jiwa dan menempati sepanjang tepi pantai Kartini, pantai Tirto Samodra dan pantai Teluk Awur. Akibatnya Bupati Jepara, Hendro Martojo turun tangan memberikan penjelasan lewat berbagai media atau bertatap langsung dengan warga. "Intinya, jangan terlalu percaya pada aneka macam ramalan. Lebih mendekatkan diri berdoa meminta keselamatan kepada Allah. Termasuk mengutip keterangan para ahli, bahwa wilayah Jepara tidak termasuk dalam peta tsunami di Indonesia," tuturnya.

Kura-kura raksasa memang berada di bibir pantai kawasan wisata pantai-taman Kartini, sekitar satu kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Jepara, tetapi hanya sebuah bangunan dengan bentuk kura-kura.

Dibangun dengan dana dari APBD Jepara secara bertahap sejak tahun 2002 dan sampai dengan Jumat (24/4) sudah menelan biaya lebih dari Rp 12 miliar, namun belum kunjung selesai. Bahkan kalangan anggota DPRD Jepara terang-terangan menyatakan proyek itu gagal total dan harus dipertanggungpjawabkan.

Sempat pula diserahkan ke PT Citratama Langgeng Arta untuk melanjutkan pembangunan serta mengelola kawasan wisata pantai Kartini 15.300 meter persedi. Meski Pemkab Jepara telah menerima kompensasi Rp 2,7 miliar, tetapi perusahaan asal Semarang ini tidak sanggup meneruskan pembangunan dan pengelolaannya.

Bupati Jepara, Hendro Martojo melalui Kabag Humas, Hadipriyanto mengakui, pembangunan gedung dunia hayati laut (Sea World) berbentuk kura-kura tersebut, merupakan salah satu upaya pemkab setempat untuk mendongkrak obyek wisata pantai Kartini.

Sedang tsunami asal bahasa Jepang yang arti harafiahnya, ombak besar di pelabuhan. Atau ombak yang terjadi setelah ada gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus atau hantaman meteor dan 90 persen akibat gempa bumi bawah laut. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut. Bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya.

Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.

Tsunami terjadi ketika muncul gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km), berkekuatan sekurang-kurangnya 6,5 skala Richter dan dengan pola sesar naik atau sesar turun.

Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, Chaerani, tsunami tidak mungkin terjadi di Jepara, sebab daerah ini bukan termasuk lempengan gempa. "Jangan percaya ramalan Mama Laurent," tegasnya.

Namun Ketua LSM Masyarakat Reksa Bumi (Marem), Dr Lilo Sunaryo berpendapat beda, karena banyak bukti pendukung bahwa Gunung Muria (1.602 meter) masih rawan gempa. Antara lain ditandai dengan retakan dan patahan sejak dari seputar lokasi wisata Benteng Portugis Kecamatan Keling Jepara hing a Desa Rahtawu Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, di salah satu rumah penduduk Desa Pecangaan Wetan Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, satu kamarnya mendadak muncul hawa panas.

Sedang sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, sedang dan telah dibangun bekerja sama dengan pemerintah Jerman atau proyek German Indonesia Tsunami Early Warning System)., yang tersebar Padang Sumatra Barat, Cilacap, Kebumen (Jateng), Bantul(Jogja) dan Badung (Bali).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau