Xabi Alonso, Master of Passing

Kompas.com - 25/04/2009, 09:40 WIB

KOMPAS.com — Rafalution 2004. Perombakan ala Rafael Benitez tersebut membawa kemajuan buat Liverpool sampai sekarang. Selain membawa "The Reds" juara Liga Champions 2004-2005, mereka juga memiliki seorang pemain yang kini menjadi otak di lini tengah. Pemain itu bernama Xabi Alonso Olano.
 
Kedatangannya membuat Steven Gerrard bisa bermain lebih bebas di lini tengah. Alonso dapat memainkan perannya sebagai pengumpan andal. Banyak gol Liverpool yang lahir dari umpan-umpan matangnya kepada para penggawa depan. Ketika dia bermain, para striker bagai dimanjakan dengan umpan-umpannya.
 
Tapi, keahliannya tak hanya itu. Dia pun piawai mencetak gol dari tendangan jarak jauh. Seperti yang dilakukannya di pertandingan melawan Newcastle pada 20 September 2006 lalu. Di pertandingan yang berakhir dengan skor 2-0 bagi "The Reds" tersebut, Alonso mencetak gol dari jarak 64 meter di menit ke-79. Kiper Newcastle, Steve Harper, pun dibuat tak berdaya.

Sebelum mencetak gol spektakuler itu, Alonso juga sudah menjadi arsitek gol Dirk Kuyt di menit ke-29. “Awalnya, saya berharap bahwa Alonso akan mengumpan bola itu ke Gerrard yang sudah punya posisi di depan. Saya kecewa ketika dia tak melakukannya. Tapi melihat gol tersebut, mau tak mau saya harus mengucapkan selamat kepadanya,” kata Benitez.

Kubu lawan mau angkat topi kepada Alonso atas golnya. “Tendangan yang spektakuler. Saya tak menyalahkan Steve atas apa yang terjadi. Gol Alonso memang luar biasa. Mungkin penonton tak tahu betapa sulitnya mencetak gol seperti itu. Skill-nya sungguh brilian,” kata Glenn Roeder, manajer Newcastle saat itu.

Lebih baru, Alonso mencetak gol kemenangan melawan Chelsea di Stamford Bridge pada 26 Oktober tahun lalu. Golnya di menit ke-10 itu membuat Liverpool berhasil menghentikan rekor tak terkalahkan Chelsea di kandang sejak 21 Februari 2004 atau sebanyak 86 pertandingan berturut-turut. Luar biasa.

Kepiawaian memberikan umpan dan mencetak gol itu sudah tercium John Toshack ketika masih berada di Real Sociedad. Alonso berada di Sociedad mulai musim 1999-2004, tetapi sempat dipinjamkan ke Sociedad Deportiva Eibar di musim 2000-2001. “Saya tak ingat pemain muda sebelumnya yang bisa berpengaruh besar bagi klub,” kata Toschak. “Semua pemain tampak tampil lebih bagus, ketika Alonso ada di lapangan,” imbuh dia.

Sosok seperti Alonso memang pemain yang tepat bagi Benitez saat dia mulai menukangi Liverpool. Sejak mengambil alih kursi kepelatihan dari Gerrard Houllier, Benitez yakin kalau kunci sukses permainan berasal dari umpan-umpan matang dan ball possession.

Tak heran, dia enggan melepas Alonso ketika rumor kepergian dirinya mencuat di bursa transfer musim panas lalu, kendati hubungan antara keduanya sedang tak bagus. “Saya perjelas kalau Xabi tak akan pindah ke manapun. Dia tak diizinkan pergi. Dia adalah seorang pemain penting bagi Liverpool. Untuk sekarang dan masa depan,” bilang Benitez.

TAK INGIN PERGI
Hubungan antara Alonso dan Benitez memburuk ketika Alonso menolak memperkuat Liverpool saat harus bertanding lawan Inter Milan di Giuseppe Meazza tahun lalu. Pasalnya, di saat yang sama, Alonso memilih untuk mendampingi kekasihnya, Nagore, melahirkan anaknya. Tak heran, Benitez sempat hendak menggantinya dengan Gareth Barry awal musim ini.

“Aku tak pernah habis pikir kenapa Benitez hendak menjualku ketika aku tak ingin pergi. Aku belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Aku kembali ke klubku dari ajang Euro 2008, tapi aku tak tahu seperti apa masa depanku nanti. Kabar menyebut kalau banyak klub menginginkanku. Aku gembira mendengarnya, tapi aku tak pernah menginginkan, apalagi memintanya,” bilang dia.

“Kalau memang klub sudah tak menginginkanku, sebaiknya aku harus bisa menerimanya. Itu adalah bagian dari bisnis sepak bola dan aku terlibat di dalamnya. Namun, sekarang semuanya sudah selesai, dan aku bisa terus bermain membela Liverpool,” lanjut dia.

Alonso merasa betah berada di Liverpool. Dia ingin tetap membela "The Reds" untuk beberapa tahun ke depan. Kendati dia sendiri tak bisa memberikan jaminan kalau namanya tak akan masuk daftar jual di bursa transfer tahun ini. “Aku bahagia berada di sini. Tak ada klub lain yang lebih baik untuk bermain sepak bola selain Liverpool,” kata dia.

Kebahagiaan itu diwujudkannya dengan bermain maksimal bagi klub, meski sebelumnya dia sudah menunjukkan kontribusi terbesarnya bagi The Reds. Kontribusi itu terjadi ketika dia memenangi gelar jawara Liga Champions musim 2004-2005, apalagi saat dia melesakkan gol di menit ke-59 guna menyamakan kedudukan dengan AC Milan 3-3 di babak final.

“Ini adalah momen terbaik sepanjang karier profesionalku bersama Liverpool, apalagi saat aku bisa menciptakan gol penyama kedudukan. Rasanya sungguh menyenangkan,” papar dia.

Perkembangan permainannya sangat pesat di tahun ini. Tak heran, namanya masuk dalam daftar Professional Footballers' Association Players' Player of the Year (PFA) musim ini. Bahkan, pemain Manchester United, Ryan Giggs, menjagokan dirinya untuk merebut gelar tersebut.

“Salah satu pemain Liverpool, Xabi Alonso atau Steven Gerrard, tampil luar biasa musim ini. Selain mereka berdua, kandidat lain adalah Frank Lampard,” kata Giggs. Selain Gerrard dan Alonso, Giggs dan Nemanja Vidic juga dijagokan merebut gelar ini.

Giggs benar. Nama Alonso pantas dimasukkan ke nominasi penghargaan ini. Sebuah bayaran yang pantas untuk kontribusinya bagi Liverpool. Terutama ketika dia menciptakan ribuan umpan matang bagi para striker, sekaligus memanjakan mereka di lini depan. Alonso boleh disebut sebagai salah satu master pengumpan di jagat sepak bola. (Ruri/Soccer)

FAKTA ALONSO
Nama lengkap:
Xabi Alonso Olano
Lahir: Tolosa (Spanyol), 25 November 1981
Tinggi/Berat: 183 cm / 75 kg
Posisi: Midfielder
Nomor kostum: 14 (Liverpool)
Debut EPL: 29 Agustus 2004, Bolton 1-0 Liverpool
Debut timnas: 30 April 2003, Spanyol 4-0 Ekuador
Karier klub:
Musim - Klub - Divisi - Main - Gol

2008-2009 - Liverpool - EPL - 24 - 2
2007-2008 - Liverpool Premier League 19 - 2       
2006-2007 - Liverpool - EPL - 32 - 4
2005-2006 - Liverpool EPL - 35 - 3
2004-2005 - Liverpool - EPL - 24 - 2
2003-2004 - Sociedad - Divisi Primera - 35 - 3
2002-2003 - Sociedad - Divisi Primera - 32 - 3
2001-2002 - Sociedad - Divisi Primera - 30 - 3
2000-2001 - Sociedad - Divisi Primera - 17 - 0
2000-2001 - Eibar - Divisi Segunda - 14 - 0
1999-2000 - Sociedad - Divisi Primera - 5 - 0

Dari keluarga sepak bola

Talenta Alonso di dunia sepak bola ternyata diturunkan dari sang ayah, Miguel Angel Alonso Oyarbide atau lebih dikenal sebagai Periko Alonso. Periko adalah mantan pemain Barcelona dan Real Sociedad dan sempat tiga kali mencicipi gelar juara Liga BBVA. Periko pun pernah tampil membela Spanyol sebanyak 40 kali di era 1980-an.

Xabi juga memiliki kakak laki-laki bernama Mikel Alonso yang berprofesi sebagai pemain sepak bola. Mikel kini merumput di klub guram Spanyol, Tenerife. “Sebenarnya saya tak pernah mengarahkan mereka menjadi pemain sepak bola. Mereka sudah menyukainya sejak kecil,” kata Periko.

Ingatan Periko pun kembali ke masa lalu. Bersama Mikel, Xabi mulai berlatih sepak bola di pantai. Kemudian, mereka melanjutkannya di tingkat sekolah dan masuk ke akademi sepak bola. “Saya hanya menasihatinya untuk terus berlatih semaksimal mungkin tiap hari dan selalu berhasrat meraih kemenangan. Dan Xabi memiliki hasrat itu,” beber Periko.

Sejak kecil Xabi menyadari kalau dia dan Mikel memiliki hak istimewa karena sejak kecil bisa berlatih dengan sang ayah di Real Sociedad dan Barcelona. Pemilihan posisi sebagai midfielder pun tak lepas dari peran sang ayah, ketika Xabi belajar mengumpan dengan melihat permainan Periko.

“Aku lebih sering berlatih mengumpan bola dibandingkan mencetak gol. Ketika aku dan kakakku beranjak dewasa, kami sadar kalau kami menikmati permainan ini. Tapi ayah tak pernah menekanku untuk menjadi seorang pemain sepak bola. Semua terjadi atas keinginanku,” kata Xabi Alonso.

Sekarang, saat Xabi sudah mencicipi level tertinggi sepak bola profesional, nasihat apa yang diberikan Periko bagi Xabi? “Ayah memintaku untuk tetap bersikap membumi. Aku tak pernah merasa diuntungkan dengan memiliki seorang ayah pesepak bola tenar. Awalnya orang mencibirku karena nama belakangku akan memberikan keuntungan tersendiri bagiku. Tapi, sekarang aku sudah membuktikan kalau nama belakang tak berpengaruh apa pun terhadap jejak karierku,” pungkas dia.

Jawara operan di Inggris
Sebelumnya, Ryan Giggs memprediksi Steven Gerrard, Xabi Alonso, dan Frank Lampard tampil lebih dominan di musim 2008-2009. Namun, setelah kompetisi hampir selesai, dilihat dari fungsi seorang gelandang, Alonso-lah yang paling menonjol. Itu bisa dilihat dengan catatan Opta Sports Data yang menyebut jumlah umpan yang lahir dari kaki Alonso merupakan terbanyak di Inggris musim ini.

Pengumpan terbanyak di Premier League sampai Desember 2008
1. Xabi Alonso (Liverpool), 1.005 umpan akurat, 26 peluang gol
2. Jon Obi Mikel (Chelsea), 957 umpan akurat, 12 peluang gol
3. Denilson (Arsenal), 922 umpan akurat, 27 peluang gol
4. Frank Lampard (Chelsea), 901 umpan akurat, 48 peluang gol

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau