DENPASAR, KOMPAS.com — Meski perkebunan kopi masih menjadi primadona dan unggulan Pulau Dewata, produktivitasnya masih rendah, sekitar 600 kilogram bijih kopi kering per hektar dari standar 800 kilogram per hektar.
Salah satu penyebabnya adalah pengelolaan perkebunan yang masih sederhana dan tradisional oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat malas merawat dengan telaten karena harga kopi turun.
Penurunannya tercatat sekitar 18 persen dari Rp 20.000 menjadi Rp 16.500 per kilogram sejah akhir tahun 2008 dan harga ini belum menutup biaya produksinya. "Kami ingin juga hasil panenan baik, tetapi kami jadi malas jika harganya terus turun. Belum lagi pupuk juga naik," kata Komang Dodo, petani kopi dari Desa Batungsel, Pupuan, Kabupaten Tabanan.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali Gede Ardhana menyatakan, produktivitas perkebunan kopi Bali perlu perhatian serius karena masih menjadi andalan Bali. "Kami perlu memberikan semangat petani agar rajin mengelola kebunnya. Tetapi, kami juga tidak menyalahkan karena harga juga sedang tidak baik," kata Ardhana.
Berdasarkan catatan Dinas Perkebunan Bali, luas areal perkebunan kopi di Bali mencapai total 32.000 hektar. Dari areal seluas itu, produksinya tercatat sekitar 19.200 ton. Dinas Perkebunan Bali berupaya meningkatkan kesadaran petani melalui penyuluhan-penyuluhan.
Penyuluhan dilakukan guna mengingatkan pentingnya pemeliharaan tanaman kopi melalui pemangkasan daun, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit. Namun, ia menyadari keterbatasan jumlah petugas penyuluh diakui juga menjadi kendala dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman. "Kami hanya memiliki 104 petugas penyuluh perkebunan di seluruh Bali. Mereka bekerja untuk semua produk perkebunan, tidak hanya kopi," kata Ardhana.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang