Seto: Pola Pendidikan Harus Membuat Nyaman

Kompas.com - 25/04/2009, 16:46 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Psikolog perkembangan anak, Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto mengatakan bahwa pola pendidikan yang diterapkan di Indonesia seharusnya membuat siswa menjadi betah dan nyaman dalam mengikuti proses pendidikan.

"Selama ini, pola pendidikan yang diterapkan cenderung menciptakan guru sebagai sosok yang menyeramkan dan menakutkan," kata Kak Seto seusai menghadiri rangkaian acara peluncuran Program Cinta Sekolahku PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food di Gedung Juang 45 Semarang, Sabtu (25/4).

Dengan begitu, proses pendidikan yang dilaksanakan tidak akan dapat berjalan secara optimal. "Sebab, anak-anak justru menjadi takut untuk berangkat ke sekolah dan bertemu dengan gurunya," kata Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak tersebut.

Ia mengatakan, sudah saatnya pemerintah mengambil langkah untuk mengubah pola pendidikan yang selama ini telah berjalan. "Selama ini, proses pendidikan yang diterapkan, terutama dalam penyampaian mata pelajaran (mapel) di sekolah-sekolah, cenderung dilakukan secara kaku dan monoton," katanya.

Akibatnya, proses pendidikan yang dilakukan dengan cara tersebut hanya akan melahirkan "robot-robot" yang tidak mampu untuk berpikir dan bersikap kreatif.

Pola pendidikan yang seperti itu harus diubah karena tidak akan mampu memicu motivasi internal dan tingkat kreativitas siswa sebab motivasi internal sangat dibutuhkan untuk membuat siswa menjadi bersemangat dalam mengikuti proses pendidikan.

Menurut dia, masih terdapat sekitar 60 persen sekolah di Indonesia yang belum menerapkan pola pendidikan secara kreatif. "Inilah yang harus diubah agar sebisa mungkin proses pendidikan dapat membuat siswa menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan ilmu yang didapatnya di sekolah," katanya.

Peran serta pemerintah, lanjutnya, dibutuhkan dalam pengalokasian dana untuk meningkatkan kualitas dan kreativitas guru. "Tidak hanya berupa pengadaan sertifikasi terhadap guru," kata Kak Seto.

Ia mengharapkan, sosok guru, yang semula dianggap menyeramkan dan menakutkan, sebaiknya diubah menjadi sosok yang lebih bersahabat. "Guru harus menjadi sahabat anak-anak," katanya.

"Guru harus bisa menyampaikan mapel dengan sikap yang lebih menyenangkan dan bersahabat, apa pun mapelnya, terutama mapel yang sering dianggap menyeramkan bagi siswa, misalnya Kimia, Fisika, dan Matematika," katanya.

Ia mengatakan, proses pentransferan ilmu kepada siswa tidak lagi dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan mulut dan tangan, tetapi harus dilakukan dengan hati. "Misalnya, ada siswa yang tetap tidak paham meskipun telah berkali-kali diajari, sikap guru jangan lantas menganggap siswa tersebut bodoh dan tidak mampu," tegasnya.

Sebab, terdapat kemungkinan siswa tersebut memiliki pola belajar tersendiri, tidak seperti kebanyakan anak lainnya. "Sehingga, guru harus lebih sabar dalam menghadapinya," katanya.

Ia mengatakan, sekolah-sekolah yang sudah menerapkan pola pendidikan kreatif di antaranya adalah sekolah alam dan program home schooling. "Pola pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah tersebut dapat dijadikan contoh untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau