Media literasi

Harus Tegas, Membatasi Anak Menonton Televisi

Kompas.com - 27/04/2009, 03:39 WIB

Jakarta, Kompas - Orangtua harus tegas membatasi anak-anak menonton televisi karena banyak program televisi yang tidak cocok dan bahkan berdampak buruk pada anak. Di sisi lain, waktu anak untuk menonton televisi ternyata lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jam belajar anak di sekolah per tahun.

Hal itu terungkap dalam acara seminar guru bertajuk ”Media Literasi; Literasi Abad 21”, Minggu (26/4). Seminar tersebut rangkaian dari kegiatan World Book Day 2009 yang dimotori oleh Forum Indonesia Membaca.

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, Santi Indra Astuti, mengatakan, berdasarkan survei Unicef (Badan PBB Untuk Anak-anak) pada tahun 2007, anak-anak Indonesia menonton televisi lima jam sehari atau 30-35 jam per minggu atau 1.560-1.820 jam per tahun. Adapun jam belajar di sekolah rata-rata 1.000 jam per tahun, dengan 220 hari efektif belajar dalam setahun.

 

Psikolog dan pengamat pendidikan, Najelaa Shihab, mengatakan, orangtua tidak bisa menghindari kepungan televisi, game dan internet yang pasti menarik buat anak. Karena itu, orangtua harus ”melek media” sehingga bisa memilih program televisi, game, dan situs di internet yang sesuai buat anak, dengan usia dan pendidikannya. Orangtua juga harus tegas menekankan disiplin bagi anak-anaknya saat menonton televisi, baik program maupun waktunya. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau