Jakarta, Kompas -
”Jika ada satu juta orang yang mampu memilih berobat ke luar negeri, dan kalau satu orang menghabiskan dana Rp 20 juta, hal itu berarti Rp 20 triliun dibelanjakan di luar negeri. Akan lebih baik jika dana itu dipakai untuk memperbaiki sistem layanan kesehatan kita,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri setiap tahun meningkat. Keadaan ini akan berakibat buruk bagi bangsa pada masa mendatang: devisa mengalir ke luar negeri dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan nasional kurang.
”Untuk itu, muncul ide memberikan penghargaan untuk tokoh publik nasional yang kami anggap tepat karena akan mendorong masyarakat untuk lebih memercayai pengobatan di dalam negeri,” kata Fachmi Idris.
Tim Juri IDI Award 2009 adalah Dr Broto Wasisto (Dewan Penasihat IDI), Prof Dr Samsuridjal Djauzi SPPD (Dokter Terpuji 2008), Dr Moh Adib Yahya (Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia), Irwan Hidayat (Direktur Utama PT Sido Muncul), dan tokoh pers.
Menurut Irwan, kategori penerima IDI Award 2009 ini adalah pejabat negara tingkat pusat, politikus, dan pengusaha nasional.
”Secara ekonomi, mereka mampu berobat ke luar negeri, tetapi kami akan memilih tokoh yang lebih senang berobat di dalam negeri,” kata Irwan.
Mengenai maraknya promosi rumah sakit dan klinik luar negeri di media massa Indonesia, Fachmi Idris mengatakan, situasi ini dilematis terutama karena gencarnya rumah sakit dan klinik di Singapura atau negara lain melakukan promosi di media massa Indonesia.
”Di Singapura, untuk promosi rumah sakit ada aturan yang ketat, untuk itu diatur oleh regulasi mereka. Ironisnya, justru di negara kita mereka bisa beriklan semaunya. IDI sudah berkirim surat ke otoritas terkait untuk mengatur soal beriklan lembaga kesehatan dari luar negeri,” kata Fachmi Idris.