Kesejahteraan sosial

Cegah ke Luar Negeri, Layanan Perlu Diperbaiki

Kompas.com - 28/04/2009, 03:33 WIB

Jakarta, Kompas - Secara makro, sistem layanan kesehatan masyarakat di Indonesia harus dibenahi. Jika tidak, akan makin banyak pasien Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.

”Jika ada satu juta orang yang mampu memilih berobat ke luar negeri, dan kalau satu orang menghabiskan dana Rp 20 juta, hal itu berarti Rp 20 triliun dibelanjakan di luar negeri. Akan lebih baik jika dana itu dipakai untuk memperbaiki sistem layanan kesehatan kita,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr dr Fachmi Idris MKes saat peluncuran program IDI Awards 2009 di Jakarta, Senin (27/4).

Jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri setiap tahun meningkat. Keadaan ini akan berakibat buruk bagi bangsa pada masa mendatang: devisa mengalir ke luar negeri dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan nasional kurang.

”Untuk itu, muncul ide memberikan penghargaan untuk tokoh publik nasional yang kami anggap tepat karena akan mendorong masyarakat untuk lebih memercayai pengobatan di dalam negeri,” kata Fachmi Idris.

Tim Juri IDI Award 2009 adalah Dr Broto Wasisto (Dewan Penasihat IDI), Prof Dr Samsuridjal Djauzi SPPD (Dokter Terpuji 2008), Dr Moh Adib Yahya (Ketua Persatuan Rumah Sakit Indonesia), Irwan Hidayat (Direktur Utama PT Sido Muncul), dan tokoh pers.

Menurut Irwan, kategori penerima IDI Award 2009 ini adalah pejabat negara tingkat pusat, politikus, dan pengusaha nasional.

”Secara ekonomi, mereka mampu berobat ke luar negeri, tetapi kami akan memilih tokoh yang lebih senang berobat di dalam negeri,” kata Irwan.

Mengenai maraknya promosi rumah sakit dan klinik luar negeri di media massa Indonesia, Fachmi Idris mengatakan, situasi ini dilematis terutama karena gencarnya rumah sakit dan klinik di Singapura atau negara lain melakukan promosi di media massa Indonesia.

”Di Singapura, untuk promosi rumah sakit ada aturan yang ketat, untuk itu diatur oleh regulasi mereka. Ironisnya, justru di negara kita mereka bisa beriklan semaunya. IDI sudah berkirim surat ke otoritas terkait untuk mengatur soal beriklan lembaga kesehatan dari luar negeri,” kata Fachmi Idris. (LOK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau